BERITA TERKINI
Bank Tegal Paparkan Strategi Penguatan Ekonomi Berkelanjutan dalam Penjurian TOP BUMD Awards 2026

Bank Tegal Paparkan Strategi Penguatan Ekonomi Berkelanjutan dalam Penjurian TOP BUMD Awards 2026

PT BPR Bank Tegal (Perseroda) menegaskan perannya sebagai badan usaha milik daerah (BUMD) yang tidak semata berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga terlibat dalam upaya pembangunan ekonomi berkelanjutan di daerah. Hal itu disampaikan Direktur Utama Bank Tegal, Nurul Huda, dalam sesi penjurian TOP BUMD Awards 2026 yang digelar secara daring, Jumat (20/2/2026).

Dalam pemaparannya, Nurul Huda menyebut peran strategis BUMD menjadi kunci untuk memperkuat fondasi ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan. Ia menyampaikan materi mengenai posisi BUMD dalam mendukung pembangunan ekonomi yang bertumpu pada keberlanjutan.

Bank Tegal mengusung visi “Terwujudnya BPR yang sehat dan terus tumbuh seiring dengan peningkatan kepercayaan masyarakat”. Visi tersebut menjadi pijakan dalam memperluas akses layanan keuangan sekaligus menjaga reputasi dan kepercayaan publik. Adapun misinya antara lain menjadikan BPR sebagai penyedia jasa keuangan yang mengakar di masyarakat dengan meningkatkan peran perempuan dalam kesejahteraan keluarga, serta memperkuat kontribusi sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Dari sisi layanan, aktivitas usaha Bank Tegal mencakup penghimpunan dana melalui tabungan dan deposito, penyaluran kredit atau pembiayaan, layanan transfer dana, serta penempatan dan pinjaman antarbank.

Untuk menghadapi persaingan industri perbankan, Bank Tegal menjalankan strategi ekspansi jaringan dengan menambah titik layanan kantor kas dan memperkuat sistem teknologi informasi melalui pengembangan core banking system. Nurul Huda menyebut di wilayah Kabupaten Tegal terdapat 18 kecamatan, sementara Bank Tegal telah memiliki 12 kantor kas dan satu mobil layanan kas.

Bank juga mendorong transformasi digital melalui pengembangan M-Banking dan payment point untuk meningkatkan pendapatan berbasis komisi (fee based income). Di sisi tata kelola teknologi, audit IT eksternal dilakukan untuk memastikan keamanan serta pengelolaan sistem yang memadai.

Dari aspek pendanaan, dukungan penambahan modal disetor dari Pemerintah Kabupaten Tegal disebut memperkuat struktur permodalan. Penguatan sumber daya manusia dilakukan melalui peningkatan hard skills dan soft skills, penerapan sistem reward and punishment, penilaian berbasis kompetensi, serta rekrutmen menyesuaikan kebutuhan ekspansi.

Dalam pengelolaan risiko kredit, monitoring pasca pencairan dilakukan secara intensif dengan target menjaga rasio kredit bermasalah (NPL) di bawah 5 persen. Likuiditas juga dijaga melalui kerja sama dengan bank umum, BPR, dan lembaga keuangan lain, termasuk penempatan antarbank dan linkage program. Bank Tegal turut mendorong inklusi dan literasi keuangan melalui program Gerakan Pelajar Menabung di wilayah Kabupaten Tegal.

Bank Tegal mencatat kinerja keuangan 2024–2025 dengan tren pertumbuhan. Aset meningkat 10,15 persen, kredit naik 10,22 persen, tabungan tumbuh 6,5 persen, dan deposito melonjak 25,96 persen. Pendapatan operasional tercatat naik 18,07 persen, sementara laba meningkat 22,51 persen dari Rp2,4 miliar pada 2024 menjadi Rp3 miliar pada 2025.

Nurul Huda menyampaikan aset Bank Tegal telah mencapai Rp250 miliar. Ia menekankan pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat, mengingat dana pihak ketiga yang dihimpun dalam bentuk tabungan dan deposito mencapai sekitar Rp220 miliar, sementara modal dari pemerintah daerah sekitar Rp21 miliar. Ia juga menyatakan optimisme aset dapat menembus Rp300 miliar dengan fokus pada peningkatan tabungan dan deposito.

Kontribusi terhadap PAD disebut meningkat seiring kenaikan dividen setiap tahun. Nurul Huda menyampaikan setoran ke PAD sebesar Rp1,675 miliar, dengan laba yang tercatat Rp3 miliar pada 2025.

Pada aspek tata kelola, Bank Tegal melakukan pengkinian SOP, penyusunan job grade dan spesifikasi pekerjaan, serta skala gaji yang diselaraskan dengan strategi bisnis. Rencana Bisnis Bank (RBB) dikomunikasikan kepada seluruh karyawan dan dimonitor secara intensif. Sistem manajemen kinerja menggunakan Key Performance Indicator (KPI) berbasis Balanced Scorecard yang mencakup aspek keuangan, nasabah, proses internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan pegawai.

Survei kepuasan pegawai menunjukkan nilai 75 persen atau kategori “cukup baik”. Sementara itu, self assessment GCG dan ESG mencatat skor 2 dengan kategori “Baik”, yang disebut mencerminkan komitmen terhadap prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan fairness.

Di bidang inovasi, Bank Tegal mengakui tantangan digitalisasi di sektor BPR. Bank tengah mengembangkan aplikasi E-Wallet bekerja sama dengan PT Bimasakti Multi Sinergi dengan target implementasi pada 2026, serta menyiapkan pengembangan Merchant-QRIS sambil menunggu izin dari otoritas terkait. Untuk kebutuhan internal, Bank juga mengembangkan aplikasi E-Collector bersama PT Mitranet Software Online guna membantu petugas lapangan melakukan transaksi setoran tabungan dan angsuran secara real-time, meminimalkan risiko penyalahgunaan, dan mendukung tata kelola yang lebih akuntabel.

Sebagai BUMD, Bank Tegal menjalankan program keberlanjutan, antara lain pengelolaan lingkungan melalui biopori, pemilahan sampah, penghijauan, budaya paperless, serta penghematan energi. Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSLP) dialokasikan sebesar 3 persen dari laba untuk bantuan korban bencana, perbaikan sarana prasarana, serta pemberdayaan masyarakat melalui Komunitas Pengembangan Mikro Kecil Tegal (KPMKT).

Dalam mendukung ketahanan pangan, Bank Tegal menyalurkan pembiayaan pertanian dan peternakan melalui produk KUPS, termasuk pemberdayaan kelompok peternak sapi dengan pembiayaan berbunga rendah. Bank juga menjalankan program KURDA dengan skema bunga rendah yang didukung pemerintah daerah, serta kredit “Berkah” bagi pedagang pasar yang mayoritas perempuan sebagai bagian dari upaya pemberdayaan dan pemberantasan praktik rentenir.

Selain itu, Bank Tegal menyalurkan bantuan langsung kepada hampir 9.000 guru swasta melalui rekening Bank Tegal setiap triwulan. Nurul Huda juga menilai pemberdayaan UMKM melalui KPMKT dan penguatan peran perempuan dapat menjadi model yang direplikasi BUMD lain. Dalam program tersebut, Bank Tegal membantu pelaku UMKM memperoleh izin rumah tangga (IRT) dan sertifikasi halal secara gratis agar dapat menjangkau pasar modern.

Melalui pemaparan kinerja, tata kelola, inovasi digital, serta program yang menyasar UMKM dan perempuan, Bank Tegal menempatkan diri sebagai salah satu BUMD yang berupaya mendorong ekonomi daerah yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan.