Ankara — Bank Sentral Turki memulai tahun 2026 dengan langkah pelonggaran kebijakan moneter secara hati-hati. Dalam pertemuan penetapan suku bunga pertama tahun ini, bank sentral memutuskan memangkas suku bunga acuan sebesar 100 basis poin menjadi 37 persen.
Keputusan tersebut dinilai lebih terukur dibandingkan perkiraan sebagian pelaku pasar. Sebelumnya, banyak analis memperkirakan pemotongan yang lebih agresif sebesar 150 basis poin, sejalan dengan langkah yang diambil pada Desember tahun lalu.
Komite Kebijakan Moneter (MPC) menyatakan perlambatan tren inflasi menjadi alasan utama di balik pemangkasan suku bunga. MPC menilai penurunan inflasi didukung oleh kebijakan pengetatan keuangan sepanjang 2025.
Data terbaru menunjukkan inflasi pada akhir 2025 tercatat 30,89 persen, turun dari 44,38 persen pada tahun sebelumnya. Otoritas moneter menargetkan inflasi melandai ke 16 persen pada 2026 dan mencapai satu digit pada akhir 2027.
Meski inflasi menunjukkan tren menurun, bank sentral tetap mengingatkan adanya risiko dari ekspektasi inflasi terhadap proses disinflasi. MPC menegaskan perlunya pendekatan berbasis data dalam menentukan langkah kebijakan selanjutnya.
“Ekspektasi inflasi dan perilaku penetapan harga terus menimbulkan risiko terhadap proses disinflasi,” kata MPC dalam keterangan tertulis, dikutip dari Xinhua, Sabtu, 24 Januari 2026.
Sejumlah ekonom menilai pemangkasan yang terbatas ini dilakukan untuk menjaga kredibilitas bank sentral. Ekonom Atilla Yesilada menilai langkah tersebut dimaksudkan untuk mendukung aktivitas ekonomi tanpa memberi sinyal bahwa upaya menekan inflasi telah berakhir.
Sementara itu, ekonom Mustafa Sonmez mengingatkan agar penurunan suku bunga tidak mendorong pemulihan permintaan domestik terlalu cepat, terutama pada sektor kebutuhan pokok seperti pangan dan jasa. “Seiring penurunan suku bunga, para pembuat kebijakan harus memastikan bahwa permintaan tidak pulih terlalu cepat, terutama mengingat tekanan biaya yang terus berlanjut pada layanan jasa dan makanan,” ujarnya.

