Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor migas pada 2025 tidak mencapai target, meski lifting minyak Indonesia meningkat. Menurutnya, kondisi tersebut terutama dipengaruhi tren harga minyak dunia yang cenderung melemah hampir sepanjang tahun.
“Sekalipun lifting minyak sampai 605,3 ribu barel per hari pada 2025, tetapi kita harus menyampaikan bahwa dalam APBN asumsi kita harga ICP itu US$82/barel. Namun, kenyataannya, sejak Januari—31 Desember rata-rata harga minyak dunia US$68/barel,” kata Bahlil.
Ia menjelaskan, perbedaan antara asumsi harga minyak dalam APBN dan realisasi harga pasar berdampak langsung terhadap pendapatan negara. “Maka itu berdampak ketika harga [minyak] tidak sampai US$80/barel, itu berdampak terhadap pendapatan negara. Maka itu, pendapatan di sektor migas mencapai Rp105,04 triliun atau 83,7% dari target. Ini untuk sektor migas,” ujarnya.
ESDM sebelumnya melaporkan realisasi produksi siap jual atau lifting minyak sepanjang 2025 mencapai 605,3 ribu barel per hari (mbpod). Capaian ini disebut sebagai kenaikan lifting minyak Indonesia untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun terakhir.
Sementara dari sisi gas, produksi siap jual sepanjang 2025 tercatat 951,8 ribu barel setara minyak per hari (mboepd). Angka tersebut masih berada di bawah target APBN yang ditetapkan sebesar 1.005 ribu mboepd.

