Tabung kecil yang lazim dipakai untuk membuat whipped cream belakangan menjadi sorotan, bukan karena kegunaannya di dapur, melainkan karena kandungan gas nitrous oxide (N₂O) di dalamnya. Gas ini kerap disalahgunakan untuk tujuan non-medis demi sensasi euforia sesaat. Nitrous oxide dikenal luas sebagai laughing gas atau gas tawa.
Dalam dunia medis, nitrous oxide telah digunakan selama puluhan tahun sebagai sedatif ringan dan anestesi, terutama di bidang kedokteran gigi dan persalinan. Namun, penggunaan tanpa pengawasan medis dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan.
Nitrous oxide bekerja dengan memperlambat aktivitas sistem saraf pusat. Efeknya dapat membuat seseorang merasa lebih rileks, tenang, dan sedikit euforia tanpa benar-benar kehilangan kesadaran. Karena efeknya cepat muncul dan cepat hilang, N₂O dinilai relatif aman bila digunakan dalam konteks medis dengan dosis terkontrol dan selalu dicampur oksigen.
Masalah muncul ketika gas dihirup langsung dari tabung atau balon tanpa campuran oksigen dan tanpa pemantauan tenaga kesehatan. Dalam penjelasannya di Instagram, Certified Nutrition and Health Coach dr. Dion Haryadi, PN1, CHC, AIFO-K, menegaskan bahwa nitrous oxide dalam tabung whipped cream bukan obat diet atau suplemen. Meski demikian, gas tersebut memiliki efek sedatif ringan yang dapat menimbulkan sensasi “melayang” dan euforia secara akut.
Dr. Dion menyebut penggunaan sesekali mungkin tampak tidak bermasalah, tetapi penggunaan rutin atau berulang dapat memicu dampak kesehatan serius. Salah satu risiko utama adalah hipoksia, yaitu kondisi kekurangan oksigen dalam tubuh. Saat N₂O dihirup tanpa oksigen tambahan, kadar oksigen dapat turun secara tiba-tiba, yang berisiko menyebabkan pingsan hingga mengganggu organ vital.
Selain itu, laporan BBC News menyoroti meningkatnya kasus gangguan saraf akibat penyalahgunaan nitrous oxide, terutama di kalangan anak muda. Penggunaan berlebihan dapat mengganggu metabolisme vitamin B12, nutrisi penting untuk kesehatan saraf. Dampaknya dapat berupa kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki, gangguan keseimbangan, kelemahan otot, perubahan suasana hati, hingga gangguan neurologis yang berpotensi permanen bila terlambat ditangani.
Dr. Dion juga menambahkan bahwa penyalahgunaan kronis dapat memicu gangguan mood, pingsan berulang, hingga kerusakan sistem persarafan. Ia menekankan bahwa dalam praktik medis, nitrous oxide tidak pernah diberikan sendirian, melainkan selalu dicampur oksigen dan disertai pemantauan ketat.
Perlu digarisbawahi, nitrous oxide bukan zat terlarang dalam dunia kesehatan. Di fasilitas medis, gas ini diberikan dengan standar ketat—dosis terukur, dicampur oksigen, dan dipantau langsung oleh dokter atau tenaga kesehatan terlatih. Sebaliknya, penggunaan untuk tujuan rekreasional tidak memiliki sistem pengaman tersebut, sehingga risikonya meningkat tajam.
Penyalahgunaan gas nitrous oxide dari tabung whipped cream untuk mengejar euforia sesaat dapat membuka pintu pada berbagai masalah kesehatan, mulai dari hipoksia hingga kerusakan saraf. Edukasi dan kewaspadaan publik menjadi kunci agar zat yang bermanfaat dalam konteks medis ini tidak berubah menjadi ancaman kesehatan tersembunyi.

