BERITA TERKINI
Australia dan Filipina Siap Perbarui Perjanjian Pertahanan, Perluas Kerja Sama Maritim hingga Siber

Australia dan Filipina Siap Perbarui Perjanjian Pertahanan, Perluas Kerja Sama Maritim hingga Siber

Australia dan Filipina menargetkan peresmian perjanjian pertahanan baru dalam satu tahun ke depan untuk memodernisasi dan memperluas kemitraan militer yang telah lama terjalin di antara kedua negara.

Pernyataan itu disampaikan Duta Besar Australia untuk Filipina, Marc Innes-Brown, dalam Dialog Manila mengenai Laut Cina Selatan pada November 2025. Ia mengatakan kesepakatan yang tengah disiapkan akan menjadi perluasan signifikan kolaborasi pertahanan seiring perubahan lingkungan keamanan di Indo-Pasifik.

Menurut Innes-Brown, perjanjian tersebut akan mencakup sejumlah bidang, mulai dari kesadaran ranah maritim, perencanaan operasional gabungan, keamanan siber, hingga pembangunan infrastruktur pertahanan. Ia menyebut luas dan kedalaman kerja sama kedua negara telah berkembang, sehingga diperlukan pembaruan perjanjian untuk menyesuaikan dengan perubahan situasi keamanan.

Kerja sama itu juga diproyeksikan berdampak pada dinamika di Laut Cina Selatan, seiring meningkatnya patroli dan latihan gabungan Australia dan Filipina, termasuk bersama sekutu bersama mereka, Amerika Serikat. Langkah ini dikaitkan dengan respons terhadap meningkatnya agresi Tiongkok di jalur perdagangan global yang dinilai vital.

Canberra dan Manila sebelumnya telah terikat oleh sejumlah pakta pertahanan, termasuk perjanjian kerja sama pertahanan pada 1995 serta Perjanjian Status Pasukan Kunjungan yang diratifikasi pada 2012.

Pada Agustus 2025, Menteri Pertahanan Australia Richard Marles dan Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro Jr. mengumumkan kerangka kerja baru yang akan mencakup delapan proyek infrastruktur di lima lokasi di Filipina. Pada bulan yang sama, ribuan personel Pasukan Pertahanan Australia dan Angkatan Bersenjata Filipina berlatih bersama pasukan Kanada dan Amerika Serikat dalam Latihan Alon di sekitar Pulau Luzon dan Palawan.

Kerja sama maritim juga berlanjut pada akhir Oktober 2025 ketika pasukan Australia dan Filipina bergabung dalam aktivitas di Laut Cina Selatan bersama Selandia Baru dan Amerika Serikat. Kegiatan itu berlangsung beberapa hari setelah pesawat jet tempur Tiongkok mengganggu pesawat patroli P-8A Angkatan Udara Australia di atas Laut Cina Selatan. Canberra mengecam insiden tersebut sebagai tindakan yang dinilai tidak aman dan tidak profesional.

Richard Marles menilai Tiongkok tengah melakukan apa yang ia sebut sebagai pengembangan kekuatan militer terbesar di dunia saat ini. Dalam konteks itu, Australia menghadapi risiko yang semakin besar dalam melindungi rute perdagangan maritim, khususnya di Laut Cina Selatan. Sebagai tanggapan, Australia meningkatkan anggaran pertahanan untuk mengembangkan angkatan laut yang lebih berkemampuan, mematikan, dan memiliki jangkauan jarak jauh, termasuk rencana pembuatan kapal selam bertenaga nuklir dengan persenjataan konvensional melalui kemitraan AUKUS bersama Britania Raya dan Amerika Serikat.

Perluasan kerja sama Australia-Filipina berlangsung di tengah dorongan koordinasi multilateral di kawasan. Pada awal November 2025, pemimpin pertahanan kedua negara bergabung dengan rekan mereka dari Jepang dan Amerika Serikat dalam perundingan di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam pertemuan itu, mereka menyatakan dukungan terhadap pembentukan dewan kerja sama bagi para kepala pertahanan Indo-Pasifik.

Departemen Pertahanan Nasional Filipina menyatakan dewan tersebut ditujukan untuk membantu memastikan keselarasan yang lebih baik antara kebijakan dan tujuan operasional. Perkembangan ini dipandang mencerminkan meningkatnya keterlibatan Manila dalam pengelompokan pertahanan di luar pakta bilateral tradisional, sekaligus menempatkannya sebagai bagian dari simpul selatan arsitektur keamanan regional.

Innes-Brown juga menyinggung kesinambungan hubungan keamanan kedua negara, dengan menyatakan bahwa pasukan Australia terlibat secara besar-besaran dalam pembebasan Filipina pada akhir Perang Dunia II dan telah menjalin kerja sama signifikan dengan Filipina sejak saat itu.