BERITA TERKINI
Astra International Rencanakan Buyback Saham Maksimal Rp2 Triliun

Astra International Rencanakan Buyback Saham Maksimal Rp2 Triliun

PT Astra International Tbk (ASII) mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) saham dengan nilai maksimal Rp2 triliun di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi. Langkah ini memunculkan ekspektasi pelaku pasar bahwa buyback dapat memberi dukungan terhadap pergerakan saham ASII.

Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melampaui 20% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan. Manajemen juga menyatakan porsi saham yang dimiliki publik (free float) tetap dijaga dan tidak turun di bawah batas minimum 7,5% dari modal ditempatkan dan disetor, sehingga aspek likuiditas saham di pasar tetap diperhatikan.

Manajemen ASII menegaskan buyback tidak akan menimbulkan dampak negatif yang material terhadap kinerja keuangan maupun kegiatan operasional perseroan. Dana buyback disebut seluruhnya bersumber dari kas internal, bukan dari pinjaman ataupun hasil penawaran umum. Dengan permodalan dan arus kas yang dinilai memadai, perseroan meyakini tetap mampu membiayai aktivitas usaha sembari merealisasikan pembelian kembali saham.

Pelaksanaan buyback direncanakan berlangsung pada 19 Januari hingga 25 Februari 2026, setelah penyampaian keterbukaan informasi resmi pada 15 Januari 2026. Dalam pergerakan saham, ASII disebut masih berada dalam fase konsolidasi harga di kisaran 7.050. Data perdagangan mengindikasikan adanya akumulasi bertahap, meski tekanan jual dinilai belum sepenuhnya mereda. Situasi ini mencerminkan kehati-hatian investor sambil menunggu kejelasan pemulihan daya beli, arah suku bunga, serta perkembangan siklus industri otomotif.

Secara keseluruhan, rencana buyback saham ASII dipandang sebagai upaya manajemen untuk memperkuat kepercayaan pasar dan membatasi risiko penurunan harga dalam jangka pendek. Menurut Ajaib Research Team, rencana buyback dengan nilai maksimal Rp2 triliun mencerminkan keyakinan manajemen bahwa valuasi saham perseroan berada pada level yang relatif menarik di tengah fase konsolidasi harga. Namun, respons pasar yang cenderung datar menunjukkan investor masih bersikap hati-hati, sehingga buyback dinilai lebih berperan sebagai penopang risiko penurunan harga (downside risk) dibandingkan katalis kenaikan harga saham dalam jangka pendek.