BERITA TERKINI
Ancaman Tarif Trump Terkait Greenland Picu Parlemen Eropa Pertimbangkan Blokir Kesepakatan Dagang UE–AS

Ancaman Tarif Trump Terkait Greenland Picu Parlemen Eropa Pertimbangkan Blokir Kesepakatan Dagang UE–AS

BRUSSELS — Parlemen Eropa bersiap menghentikan proses persetujuan kesepakatan dagang Uni Eropa (UE)–Amerika Serikat (AS) menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif terhadap negara-negara Eropa yang mendukung kedaulatan Greenland. Ancaman tersebut memicu kemarahan lintas fraksi dan dinilai dapat menggagalkan perjanjian yang selama ini dipandang penting untuk meredam konflik dagang transatlantik.

Manfred Weber, Presiden Partai Rakyat Eropa (European People’s Party/EPP) yang merupakan kelompok politik terbesar di Parlemen Eropa, menyatakan bahwa persetujuan kesepakatan dengan Washington tidak memungkinkan dalam situasi saat ini.

“EPP mendukung kesepakatan dagang UE–AS. Namun, dengan adanya ancaman Donald Trump terkait Greenland, persetujuan tidak dapat dilakukan pada tahap ini,” tulis Weber melalui media sosial, dikutip Minggu (18/1/2026). Ia juga menegaskan rencana UE untuk menurunkan tarif atas produk-produk AS harus ditangguhkan.

Kesepakatan dagang UE–AS yang dinegosiasikan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dengan Trump pada musim panas lalu sebenarnya sudah diberlakukan secara terbatas. Namun, perjanjian itu masih memerlukan persetujuan penuh Parlemen Eropa agar dapat berlaku sepenuhnya. Jika EPP bergabung dengan kelompok kiri dan fraksi-fraksi kritis lainnya, mayoritas suara untuk menunda atau memblokir ratifikasi dinilai sudah mencukupi.

Perjanjian tersebut menetapkan tarif 15 persen atas sebagian besar barang asal UE yang masuk ke AS, sebagai imbalan atas komitmen UE untuk menghapus bea masuk atas produk industri AS dan sejumlah komoditas pertanian. Von der Leyen sebelumnya mempromosikan kesepakatan itu sebagai cara mencegah eskalasi perang dagang besar-besaran dengan pemerintahan Trump.

Meski demikian, sejak awal kesepakatan menuai kritik dari sebagian anggota Parlemen Eropa yang menilai perjanjian terlalu menguntungkan AS. Ketegangan kemudian meningkat setelah Washington memperluas tarif 50 persen atas baja dan aluminium ke ratusan produk UE lainnya, meski kesepakatan telah dicapai pada Juli lalu.

Situasi memburuk ketika Trump, pada Sabtu, mengumumkan tarif tambahan 10 persen mulai 1 Februari untuk barang-barang dari negara Eropa yang mendukung Greenland. Trump juga mengancam akan menaikkan tarif menjadi 25 persen apabila tidak tercapai apa yang ia sebut sebagai “kesepakatan pembelian Greenland secara lengkap dan total.”

Pernyataan tersebut memicu kecaman dari para pemimpin Eropa. Ursula von der Leyen memperingatkan kebijakan tarif sepihak “akan merusak hubungan transatlantik dan berisiko memicu spiral penurunan yang berbahaya.” Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut ancaman Trump sebagai tindakan “yang tidak dapat diterima.”

Ketua Komite Perdagangan Parlemen Eropa, Bernd Lange, menilai isu Greenland telah mengubah lanskap politik ratifikasi kesepakatan secara mendasar. “Sudah jelas bahwa kedaulatan nasional setiap negara harus dihormati oleh semua mitra dagang,” kata Lange dalam wawancara pekan ini. Ia menegaskan implementasi kesepakatan dagang dengan AS seharusnya ditangguhkan selama ancaman Trump masih berlangsung.

Lange juga mendorong UE mempertimbangkan penggunaan anti-coercion instrument (ACI), instrumen pembalasan dagang terkuat yang dimiliki UE meski belum pernah digunakan. ACI dirancang untuk merespons tindakan pemaksaan ekonomi oleh negara ketiga yang menggunakan kebijakan perdagangan sebagai alat tekanan politik.

Langkah balasan yang dimungkinkan melalui ACI mencakup pengenaan tarif tambahan, pajak baru terhadap perusahaan teknologi, pembatasan investasi, hingga larangan perusahaan asing mengikuti tender kontrak publik di Uni Eropa.

Parlemen Eropa saat ini masih dalam fase menunggu. Komite Perdagangan yang dipimpin Lange telah menggelar pertemuan pada awal pekan ini untuk membahas keterkaitan isu kedaulatan Greenland dengan kesepakatan dagang AS, dan dijadwalkan kembali bertemu dalam sepekan ke depan.

Tekanan politik juga datang dari Denmark. Per Clausen, anggota Parlemen Eropa dari Denmark yang tergabung dalam kelompok kiri The Left, mengumpulkan 30 tanda tangan untuk surat resmi kepada pimpinan parlemen yang mendesak agar kesepakatan dagang UE–AS dibekukan selama klaim atas Greenland masih dilontarkan Washington.

“Akan sangat aneh jika kita menandatangani kesepakatan dengan Amerika Serikat saat ini,” ujar Clausen. “Ini harus menjadi sinyal jelas bahwa Uni Eropa siap menggunakan instrumen yang dimilikinya jika agresi semacam ini terus berlanjut.”