BERITA TERKINI
Amartha Buka Peluang IPO, Masih Pantau Tren Pasar dan Minat Investor

Amartha Buka Peluang IPO, Masih Pantau Tren Pasar dan Minat Investor

PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) membuka peluang untuk melaksanakan Penawaran Umum Perdana (Initial Public Offering/IPO). Namun, perusahaan fintech peer to peer (P2P) lending tersebut menyatakan belum menetapkan jadwal dan masih memantau perkembangan pasar.

Founder dan CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, mengatakan keputusan terkait IPO akan mempertimbangkan tren ke depan serta bagaimana respons pasar dan investor terhadap perusahaan. Ia menegaskan Amartha akan mengikuti permintaan pasar dan belum bersedia mengungkapkan waktu pelaksanaannya.

“Lihat tren ke depan seperti apa, serta bagaimana market dan investor melihat Amartha. Apakah Amartha memang ditunggu-tunggu buat IPO, ya, kami mengikuti permintaan pasar. Tunggu tanggal main, ya,” ujar Andi saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (23/1).

Menurut Andi, IPO menjadi salah satu aspirasi bisnis Amartha dan ditujukan untuk mendukung sektor start-up agar dapat bertumbuh lebih kuat. Ia juga menyebut perusahaan berada dalam kondisi fundamental bisnis yang solid, termasuk dari sisi profitabilitas.

“Bisnis tahun lalu juga profit, profit kami terus jaga secara konsisten dalam beberapa tahun ke belakang,” kata Andi.

Dari sisi kinerja, Amartha melaporkan telah menyalurkan pembiayaan produktif berupa modal kerja sebesar Rp 13,2 triliun kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tersebar di 50.000 desa di seluruh Indonesia pada 2025. Penyaluran pembiayaan pada 2025 disebut tumbuh dobel digit, sementara tingkat Non Performing Financing (NPF) tercatat 4,39%.

“Pertumbuhan Amartha pada tahun lalu tumbuh dobel digit secara Year on Year (YoY) atau lebih dari 20%, sedangkan secara NPF terjaga di sekitar 4%,” ujarnya.

Secara kumulatif, sejak berdiri pada 2010 hingga akhir 2025, Amartha telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 37 triliun kepada 3,7 juta pelaku UMKM di pedesaan. Perusahaan juga mencatat sekitar 60% portofolio pembiayaannya disalurkan di luar Pulau Jawa.