BERITA TERKINI
Airlangga: Transformasi Ekonomi Hijau Berkelanjutan Memerlukan Fondasi Makroekonomi yang Kuat

Airlangga: Transformasi Ekonomi Hijau Berkelanjutan Memerlukan Fondasi Makroekonomi yang Kuat

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan transformasi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan membutuhkan landasan ekonomi makro yang kokoh. Menurutnya, fondasi tersebut penting agar ambisi transisi hijau dapat berjalan secara berkelanjutan.

Transisi hijau terus didorong sebagai bagian dari strategi nasional untuk memperkuat kemandirian bangsa dan meningkatkan daya saing ekonomi, sejalan dengan visi Asta Cita. Dalam konteks komitmen global, Indonesia menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca melalui Nationally Determined Contribution (NDC) sebesar 31,89% pada 2030 dengan upaya mandiri, dan hingga 43,20% dengan dukungan internasional.

Upaya transformasi menuju ekonomi hijau dilaksanakan melalui tiga pilar utama, yakni pengembangan green energy, penguatan green economy, serta penciptaan green jobs. Ketiga pilar ini ditujukan untuk memastikan transisi hijau berjalan inklusif, berkeadilan, dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional serta masyarakat.

Airlangga juga menyinggung potensi penciptaan lapangan kerja dari transisi tersebut. Transisi menuju green economy diproyeksikan mampu menciptakan sekitar 4,4 juta lapangan kerja baru, dengan porsi tenaga kerja hijau diperkirakan mencapai sekitar 3% dari total tenaga kerja nasional pada 2029.

Dari sisi kondisi ekonomi terkini, Airlangga menyebut kinerja perekonomian nasional menunjukkan ketahanan yang solid. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2025 tercatat 5,04% secara tahunan (year on year/yoy), sementara inflasi per Desember 2025 berada di level 2,92% (yoy).

Ke depan, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan tetap kuat, masing-masing sebesar 5,2% pada 2025 dan 5,4% pada 2026. Sentimen ekonomi domestik juga dinilai tetap positif, tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mencatat rekor tertinggi, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Desember 2025 yang berada di zona ekspansif pada level 51,2, serta Indeks Keyakinan Konsumen yang berada di level optimistis 123,5.

Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mencatat surplus USD2,66 miliar. Secara kumulatif, surplus Januari–November 2025 mencapai USD38,54 miliar dan berlangsung selama 67 bulan berturut-turut.