BERITA TERKINI
Agribank Perkuat Pembiayaan Hijau dan ESG, Bidik Ekosistem Keuangan Berkelanjutan hingga 2030

Agribank Perkuat Pembiayaan Hijau dan ESG, Bidik Ekosistem Keuangan Berkelanjutan hingga 2030

Agribank menegaskan penguatan praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) sebagai prasyarat untuk mengakses aliran modal hijau internasional sekaligus strategi meningkatkan efisiensi bisnis dan meminimalkan risiko. Hal itu disampaikan Dr. Nguyen Thi Thu Ha, Wakil Ketua Komite Pengarah ESG Agribank, yang menilai ESG bukan sekadar tuntutan tren global, melainkan tugas strategis untuk menegaskan tanggung jawab bank kepada masyarakat.

Dalam proyeksi akhir 2025, total kredit hijau Agribank yang beredar diperkirakan mencapai sekitar VND 28.355,5 miliar. Porsi terbesar berasal dari sektor energi terbarukan dan energi bersih sebesar VND 15.260 miliar atau sekitar 52,5–53% dari total kredit hijau. Setelah itu, pembiayaan mengalir ke kehutanan berkelanjutan sebesar VND 6.944,4 miliar serta pertanian hijau sebesar VND 5.973 miliar. Struktur portofolio tersebut mencerminkan prioritas bank pada sektor yang dinilai mampu menekan emisi dan melindungi ekosistem.

Namun, Agribank mencatat salah satu tantangan utama pembiayaan proyek ramah lingkungan—terutama energi terbarukan dan kehutanan berkelanjutan—adalah kebutuhan modal jangka menengah dan panjang dengan siklus pengembalian yang lebih lama. Untuk menjawab kebutuhan itu, pada akhir 2025 bank menerbitkan obligasi senilai 5 triliun VND dengan tenor dua tahun berkode VBA12505.

Yang menjadi perhatian, Agribank menyatakan sejak awal bahwa seluruh dana hasil penerbitan obligasi tersebut ditujukan untuk portofolio kredit hijau, bukan obligasi konvensional yang kemudian dialokasikan belakangan. Penetapan tujuan penggunaan dana sejak tahap mobilisasi dinilai membantu memperpanjang jatuh tempo sumber dana dan mengurangi tekanan penggunaan dana jangka pendek untuk proyek dengan periode pengembalian panjang.

Meski obligasi VBA12505 belum berlabel “obligasi hijau” berdasarkan standar organisasi internasional seperti International Capital Market Association, penerbitan ini dipandang sebagai langkah persiapan teknis bagi Agribank untuk bertahap mendekati standar keuangan hijau global.

Di luar pasar domestik, Agribank juga memperluas kerja sama dengan lembaga keuangan internasional untuk mengakses pendanaan preferensial bagi proyek pembangunan berkelanjutan. Bank ini tercatat menjadi mitra sejumlah lembaga, antara lain Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan Agence Française de Développement. Melalui kerja sama tersebut, Agribank mengakses pendanaan ODA hampir 6.500 miliar VND yang digunakan untuk proyek perlindungan lingkungan, pengembangan energi terbarukan, dan pertanian rendah karbon.

Program internasional tersebut tidak hanya menyediakan sumber pendanaan, tetapi juga membantu bank mengadopsi model manajemen risiko lingkungan yang lebih modern. Agribank menyebut penguatan kapasitas penilaian dan pemantauan proyek hijau dilakukan secara bertahap agar selaras dengan standar internasional, termasuk melalui pelatihan. Sejumlah kursus tentang keuangan berkelanjutan dan ESG diselenggarakan secara rutin untuk memperkuat pemahaman staf dari level manajemen hingga karyawan operasional terhadap persyaratan baru pasar keuangan global.

Di era digital, Agribank menilai teknologi berperan sebagai solusi penting untuk mencapai target ESG, selain sebagai alat peningkatan efisiensi bisnis. Penerapan platform identifikasi elektronik eKYC serta pengembangan ekosistem perbankan digital Agribank E-Mobile Banking memungkinkan jutaan nasabah bertransaksi daring tanpa harus datang ke kantor cabang, sehingga menekan penggunaan dokumen kertas dan materi cetak.

Layanan lain seperti penagihan utang otomatis, pencarian informasi jaminan secara daring, dan pembayaran nontunai disebut turut meningkatkan pengalaman nasabah sekaligus membantu menurunkan biaya operasional serta emisi karbon yang terkait dengan transaksi tradisional.

Dalam visi jangka panjang hingga 2030, Agribank menyatakan akan menyempurnakan model perbankan ESG dengan metrik spesifik untuk mengukur pertumbuhan kredit hijau, manajemen risiko, dan pengurangan emisi dari operasional. Bank juga merekomendasikan agar pemerintah serta kementerian dan lembaga terkait segera menuntaskan kerangka hukum pasar karbon dan sistem kriteria klasifikasi proyek hijau guna memfasilitasi pengembangan keuangan berkelanjutan di Vietnam.

Agribank turut mengusulkan lima kelompok solusi strategis agar kredit hijau dapat menjadi mesin pertumbuhan baru: penyempurnaan kerangka hukum terpadu terkait obligasi hijau dan manajemen risiko lingkungan; penerapan insentif seperti koefisien risiko preferensial dan pengurangan biaya modal untuk proyek hijau; pengembangan sumber daya manusia khusus di bidang keuangan iklim; digitalisasi dan standardisasi basis data emisi gas rumah kaca; serta penguatan koordinasi lintas sektor untuk menghindari tumpang tindih kebijakan.