Riset terbaru Katadata Insight Center menilai industri pinjaman daring (pindar) di Indonesia mengalami pergeseran peran, dari sekadar alternatif pembiayaan menjadi salah satu infrastruktur keuangan strategis bagi perekonomian nasional.
Dalam riset berjudul “Dari Alternatif Menjadi Imperatif: Peran Vital Industri Pindar bagi Ekonomi Digital Indonesia”, pindar disebut menopang likuiditas rumah tangga, memperluas inklusi keuangan, serta mendorong aktivitas ekonomi pada segmen yang selama ini belum terjangkau perbankan.
Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Entjik S. Djafar mengatakan temuan tersebut menunjukkan pindar kini menjadi bagian dari infrastruktur pembiayaan nasional, baik sebagai penyangga likuiditas rumah tangga maupun katalis pertumbuhan usaha, terutama UMKM. Pernyataan itu disampaikan Entjik dalam acara buka puasa bersama media di Jakarta, Rabu (4/3).
Entjik juga menyampaikan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mencatat hingga Agustus 2025 terdapat 25,5 juta penerima aktif dengan total outstanding industri mencapai Rp 87,49 triliun. Nilai itu disebut tumbuh 21,46% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Menanggapi riset tersebut, Ketua Bidang Humas AFPI Kuseryansyah menambahkan bahwa dalam dua tahun terakhir terlihat perubahan komposisi pembiayaan industri. Porsi pinjaman produktif disebut menurun dari sekitar 30% pada akhir 2025 menjadi 20% pada pertengahan Agustus 2025.
Menurut Kuseryansyah, kondisi itu menegaskan peran pendanaan konsumtif sebagai penyangga (buffer) likuiditas rumah tangga di tengah tantangan perlambatan ekonomi. Ia menyebut konsumsi rumah tangga menyumbang 52%–58% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia dalam lima tahun terakhir.
“Ketika pembiayaan produktif melambat, menjaga daya beli masyarakat menjadi kunci agar permintaan domestik tidak jatuh. Di sinilah pembiayaan multiguna pindar berfungsi sebagai stabilisator,” ujar Kuseryansyah.
Ia juga menekankan bahwa tidak semua pembiayaan konsumtif bersifat non-produktif. Sebagian dana, menurutnya, digunakan untuk kebutuhan yang menunjang produktivitas, seperti komunikasi, transportasi, dan mobilitas kerja.
Lebih lanjut, Kuseryansyah mengatakan penyaluran pinjaman daring menimbulkan efek pengganda (multiplier) yang berdampak pada pendapatan dan penyerapan tenaga kerja dalam negeri. Berdasarkan riset tersebut, setiap Rp 1 pembiayaan produktif yang disalurkan melalui pindar diperkirakan dapat memberikan dampak hingga Rp 6 terhadap perekonomian nasional, baik melalui efek langsung maupun tidak langsung lintas sektor.
Dalam agregasi tertentu, ia melanjutkan, multiplier ekonomi pembiayaan produktif tercatat sebesar 1,69, yang berarti setiap Rp 1 pembiayaan produktif menghasilkan tambahan PDB riil sebesar Rp 1,69.
“Kontribusi ini membuktikan bahwa pendanaan Pindar produktif tidak hanya menguntungkan pelaku usaha secara mikro, tetapi juga relevan secara makro dalam mendorong output nasional, pendapatan, serta penciptaan lapangan kerja,” kata Kuseryansyah.

