BERITA TERKINI
Vietnam Bidik Status Negara Berpenghasilan Tinggi 2045 dengan Menguatkan Kapasitas Internal

Vietnam Bidik Status Negara Berpenghasilan Tinggi 2045 dengan Menguatkan Kapasitas Internal

Ambisi Vietnam untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi dipandang bukan semata-mata sebagai capaian angka ekonomi, melainkan juga terkait posisi, daya saing, dan kedudukannya dalam tatanan ekonomi global. Target tersebut menuntut perubahan yang lebih mendasar daripada sekadar mengejar pertumbuhan jangka pendek.

Dalam sejarah perkembangan ekonomi global selama sekitar 70 tahun terakhir, tidak ada negara yang menjadi kekuatan besar hanya karena keberuntungan atau mengandalkan keunggulan biaya tenaga kerja murah. Sejumlah negara yang kini maju pernah memulai dari kondisi sulit: Jepang nyaris kehabisan tenaga setelah Perang Dunia II, Korea Selatan pada 1960-an disebut lebih miskin daripada banyak negara Afrika, Jerman hancur dan terpecah, sementara Singapura memiliki sumber daya terbatas dan pasar domestik kecil.

Meski berbeda latar, negara-negara tersebut dinilai memiliki benang merah yang sama. Mereka menjalankan reformasi kelembagaan yang cukup kuat untuk menumbuhkan kepercayaan dan menciptakan insentif investasi jangka panjang. Mereka juga memilih strategi industri yang terfokus, serta membangun perusahaan domestik yang mampu mengakumulasi teknologi dan memimpin rantai nilai. Kesamaan utama bukan terletak pada ukuran populasi atau kekayaan sumber daya, melainkan pada kapasitas internal yang dibangun secara disiplin.

Bagi Vietnam, hampir empat dekade Doi Moi (Renovasi) disebut telah menghasilkan kemajuan besar. Dari ekonomi yang tertutup, Vietnam berubah menjadi salah satu ekonomi paling terbuka di dunia dalam hal perdagangan. Puluhan juta orang keluar dari kemiskinan, kelas menengah tumbuh cepat, dan sektor swasta—yang sebelumnya menyusut—kini mencakup lebih dari 96% jumlah bisnis serta menyumbang sekitar 40% produk domestik bruto (PDB). Dalam situasi integrasi dan persaingan global, generasi baru pengusaha pun bermunculan.

Namun, ketika menetapkan target pendapatan tinggi pada 2045, Vietnam dihadapkan pada sejumlah persoalan struktural. Di antaranya skala usaha yang kecil, investasi penelitian dan pengembangan (R&D) yang rendah, dominasi peran perusahaan domestik pada tahap pengolahan dalam rantai pasok global, serta besarnya omzet ekspor yang dinilai tidak sebanding dengan kualitasnya.

Sejumlah pihak menilai bisnis Vietnam kekurangan modal, teknologi, dan sumber daya manusia berkualitas tinggi. Penilaian itu diakui benar, tetapi dianggap belum menjelaskan akar persoalan. Masalah yang lebih dalam disebut berada pada struktur ekosistem pembangunan: ketika kebijakan tidak memiliki prediktabilitas jangka panjang, perusahaan cenderung memilih strategi jangka pendek. Ketika pasar modal jangka panjang belum berkembang, investasi pada teknologi dan inovasi menjadi sulit. Ketika hubungan lembaga riset, universitas, dan dunia usaha lemah, proses penguasaan teknologi dalam negeri berjalan lambat.

Ketiadaan perusahaan unggulan yang memadai juga dinilai membatasi efek limpahan teknologi ke perekonomian. Akibatnya, terbentuk siklus yang berulang: investasi jangka pendek, R&D rendah, tidak ada terobosan produktivitas, akumulasi kapasitas internal terbatas, dan posisi dalam rantai nilai tidak naik.

Untuk mewujudkan target 2045, siklus tersebut disebut perlu diputus. Kepercayaan dinilai baru menjadi kekuatan ketika diubah menjadi kemampuan. Dalam kerangka visi 2045, produktivitas faktor total (TFP) diposisikan sebagai pendorong utama pertumbuhan, didukung peningkatan investasi R&D ke tingkat yang sejalan dengan tujuan industrialisasi modern.

Visi itu juga menekankan terbentuknya kelas perusahaan teknologi terkemuka yang mampu memimpin industri dan berpartisipasi lebih dalam dalam rantai nilai regional. Selain itu, keterkaitan “tiga arah”—negara, sekolah, dan bisnis—didorong melalui proyek-proyek spesifik dengan hasil yang jelas. Lembaga-lembaga diharapkan menciptakan lingkungan yang transparan, stabil, dan dapat diprediksi agar investasi jangka panjang tumbuh.

Target 2045 ditegaskan tidak dapat dicapai hanya melalui slogan, melainkan lewat kerangka pembangunan kapasitas. Artinya, mengejar pendapatan lebih tinggi melalui kekuatan internal: membangun kemampuan yang berkelanjutan untuk jangka panjang, bukan sekadar mengungguli pihak lain dalam waktu singkat.

Dalam konteks itu, jika bisnis Vietnam hanya berfokus pada outsourcing, negara berisiko bertahan di segmen bernilai rendah. Sebaliknya, penguasaan teknologi, pembangunan merek, dan kendali atas proses bernilai tambah tinggi dipandang dapat mengubah posisi Vietnam. Di saat yang sama, stabilitas kelembagaan yang disertai insentif dinilai penting untuk memperkuat kepercayaan investasi jangka panjang.

Vietnam disebut telah menunjukkan dalam sejarahnya bahwa dengan komitmen kuat terhadap reformasi, sebuah negara dapat bertransformasi dengan cepat. Tantangan berikutnya adalah memastikan transformasi tersebut bertumpu pada penguatan kapasitas internal agar target 2045 memiliki landasan yang nyata.