Model universitas kewirausahaan dinilai bukan sekadar tren baru dalam pengelolaan pendidikan tinggi, melainkan evolusi yang tak terhindarkan dari universitas riset di tengah menguatnya ekonomi berbasis pengetahuan. Pandangan ini disampaikan Dr. Le Viet Khuyen, mantan Wakil Direktur Departemen Pendidikan Tinggi (Kementerian Pendidikan dan Pelatihan) dan kini Wakil Presiden Asosiasi Universitas dan Perguruan Tinggi Vietnam, dalam wawancara dengan Surat Kabar Wanita Vietnam.
Menurut Khuyen, sepanjang sejarahnya peran universitas selalu bergerak mengikuti kebutuhan masyarakat. Pada abad ke-20, universitas terutama diposisikan sebagai lembaga pelatihan tenaga kerja terampil dan pusat penelitian ilmiah dasar, sebuah model yang berkontribusi besar terhadap industrialisasi dan modernisasi di banyak negara.
Namun, memasuki abad ke-21, situasi berubah. Ekonomi berbasis pengetahuan menjadi mesin pertumbuhan, siklus inovasi teknologi kian singkat, dan persaingan internasional semakin ketat. Dalam kondisi ini, masyarakat tidak hanya memerlukan pengetahuan baru, tetapi juga kemampuan untuk mengubah pengetahuan menjadi nilai sosial-ekonomi. Ekspektasi terhadap universitas pun bergeser.
Khuyen menyebut universitas kini diharapkan menjadi pusat inovasi yang menghubungkan pengetahuan, teknologi, bisnis, dan kebijakan. Perannya tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga berkontribusi langsung pada penciptaan lapangan kerja, pembentukan bisnis teknologi, serta peningkatan daya saing ekonomi.
Ia menilai penyebutan universitas rintisan sebagai “tren baru” kurang tepat. Menurutnya, universitas kewirausahaan merupakan kelanjutan alami dari perkembangan pendidikan tinggi: dari universitas pengajaran, bergeser ke universitas riset, dan kini menuju universitas kewirausahaan. Setiap tahap muncul sebagai respons atas tuntutan objektif masyarakat.
Jika universitas pengajaran berfokus pada penyampaian pengetahuan dan universitas riset menekankan penciptaan pengetahuan baru, maka universitas kewirausahaan melangkah lebih jauh dengan mendorong pemanfaatan hasil riset dari laboratorium menjadi produk, teknologi, dan layanan untuk pembangunan.
Khuyen menjelaskan perbedaan mendasar universitas riset dan universitas kewirausahaan terletak pada filosofi pengembangan serta tujuan penciptaan nilai. Universitas riset menjadikan publikasi ilmiah dan kontribusi akademik sebagai metrik utama. Sementara universitas kewirausahaan tetap menjadikan riset sebagai fondasi, tetapi menargetkan komersialisasi hasil riset, pembentukan perusahaan spin-off, pemanfaatan kekayaan intelektual, serta dampak sosial-ekonomi yang lebih nyata.
Dari sisi operasional, universitas kewirausahaan juga dinilai lebih dekat dengan logika pasar melalui mekanisme transfer teknologi, kerja sama dengan bisnis, pendanaan awal, atau investasi pada perusahaan rintisan yang lahir dari kampus. Pendekatan ini disebut dapat membantu universitas mendiversifikasi sumber pendanaan dan mengurangi ketergantungan pada anggaran negara secara bertahap.
Dalam konteks penguatan inovasi, Khuyen menekankan pentingnya model “Triple Helix” yang menghubungkan universitas/lembaga penelitian, bisnis, dan pemerintah. Ia menyebut model tersebut sebagai kerangka kerja sama strategis untuk mendorong inovasi, komersialisasi teknologi, dan pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan. Pemerintah berperan menyiapkan kerangka kelembagaan dan kebijakan, universitas menyediakan pengetahuan dan sumber daya manusia, sementara bisnis menjadi ruang penerapan dan komersialisasi teknologi.
Khuyen menilai hubungan erat ketiga unsur itu dapat membantu menjembatani “kesenjangan inovasi”, yakni jarak antara penelitian akademik dan penerapan industri, yang kerap menjadi hambatan di negara berkembang.
Ia juga merujuk contoh universitas yang sering dianggap berhasil mengintegrasikan kewirausahaan dan riset, seperti MIT, Stanford, Cambridge, Technion, KAIST, serta Universitas Tsinghua dan Zhejiang. Menurutnya, pengalaman berbagai kampus tersebut menunjukkan bahwa orientasi kewirausahaan tidak merusak kualitas akademik, bahkan dapat memperkuat posisi universitas riset papan atas ketika inovasi diintegrasikan ke dalam strategi jangka panjang.
Untuk mengoperasikan universitas yang benar-benar berjiwa kewirausahaan, Khuyen menyebut beberapa prasyarat. Pertama, transformasi struktur organisasi dari model administrasi yang kaku menuju ekosistem yang lebih fleksibel, termasuk keberadaan kantor transfer teknologi, pusat inovasi, lembaga riset interdisipliner, serta dana investasi universitas.
Kedua, pembangunan budaya inovasi. Penilaian kinerja dosen tidak hanya bertumpu pada jumlah publikasi, tetapi juga paten, transfer teknologi, dan dampak sosial. Mahasiswa pun didorong tidak sekadar menjadi penerima pengetahuan, melainkan agen kreatif yang terlibat memecahkan persoalan praktis bagi bisnis dan masyarakat.
Ketiga, mekanisme keuangan yang memadai dan otonomi yang nyata. Khuyen menilai tanpa otonomi dalam aspek keuangan, personel, dan akademik, universitas akan kesulitan berkembang sesuai model kewirausahaan.
Terkait Vietnam, ia mengatakan konsep universitas rintisan sudah banyak dibahas, tetapi dalam praktiknya masih kerap dipahami secara sederhana dan mengikuti tren. Ia menyebut hambatan utama berada pada kerangka kelembagaan otonomi universitas, mekanisme hak kekayaan intelektual, sumber daya penelitian dan pengembangan, serta budaya penerimaan risiko di lingkungan akademik.
Meski demikian, Khuyen menilai Vietnam memiliki peluang besar karena ditopang populasi muda, pasar yang luas, komunitas bisnis teknologi yang berkembang, serta kebijakan nasional yang semakin memprioritaskan inovasi. Menurutnya, dengan strategi yang jelas, otonomi yang sungguh-sungguh, dan investasi yang terfokus, universitas di Vietnam dapat menjadi penggerak penting ekosistem inovasi nasional.
Di akhir wawancara, Khuyen menegaskan universitas kewirausahaan bukan sekadar isu manajemen pendidikan, melainkan tantangan strategis nasional. Ia berpendapat sebuah negara benar-benar memasuki era teknologi tinggi ketika universitas menjadi tempat yang menciptakan masa depan, bukan hanya mewariskan masa lalu. Ia menilai jika Vietnam memanfaatkan momentum untuk melakukan transformasi substansial, negara itu berpeluang melakukan lompatan besar dalam pengetahuan, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan dalam beberapa dekade mendatang.

