Minat investor global terhadap Asia Tenggara kembali menguat dalam gelaran UBS OneASEAN Summit 2026 di Singapura. Forum tahunan ini mempertemukan lebih dari 850 investor institusional, pembuat kebijakan, dan pemimpin industri dari berbagai negara untuk membahas arah investasi serta dinamika ekonomi kawasan menuju 2026.
UBS menilai Asia Tenggara semakin dipandang sebagai kawasan strategis di tengah perubahan lanskap ekonomi global. Sejumlah faktor yang disebut menarik perhatian pelaku pasar internasional antara lain pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, pasar domestik yang besar, serta keterhubungan kawasan dalam rantai nilai manufaktur global.
“Konferensi unggulan UBS OneASEAN Summit terus menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dari tahun ke tahun,” ujar Nicolo Magni, Head of UBS Global Banking South-East Asia & South Asia, dalam keterangan pers, Rabu (4/3/2026).
Ia juga menyampaikan proyeksi UBS terkait aktivitas transaksi dan pasar modal sepanjang 2026. “Kami melihat momentum transaksi akan tetap kuat sepanjang 2026, dengan aktivitas pasar modal yang semakin dinamis terutama di sektor healthcare, real estate, dan konsumen,” kata Magni.
Dari sisi makroekonomi, ekonom UBS memandang fundamental Asia Tenggara masih cukup kuat untuk menopang ekspansi ekonomi dalam beberapa tahun ke depan. Grace Lim, Senior ASEAN and Asia Economist UBS Investment Bank Global Research, memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) ASEAN-6 berada di kisaran 4,9 persen pada 2026, mencerminkan fase ekspansi yang stabil.
Menurut Grace, kawasan ini terus mendapatkan dukungan dari integrasi dalam rantai nilai manufaktur global serta besarnya pasar domestik. Ia menyebut konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama di Indonesia, sementara peningkatan investasi swasta terjadi di Thailand dan Filipina. Adapun Singapura dan Malaysia dinilai memiliki ketahanan ekspor berbasis teknologi.
Selama dua hari penyelenggaraan, UBS OneASEAN Summit juga mengangkat berbagai isu ekonomi global dan implikasinya bagi Asia Tenggara. Topik yang dibahas mencakup ketidakseimbangan perdagangan global, peluang investasi lintas kawasan di China, Jepang, dan Eropa, prospek emas dan logam mulia, hingga perkembangan digital assets dan artificial intelligence (AI) di kawasan ASEAN.
Forum tersebut turut menyoroti peran sistem energi baru dalam menopang ekonomi yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi AI. Sejumlah tokoh hadir sebagai pembicara, antara lain Wakil Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara, Whitney Shepardson Senior Fellow Council on Foreign Relations Brad Setser, serta Professor of the Practice of International Finance Lee Kuan Yew School of Public Policy Alfred Schipke. Pembicara lain yang tercatat hadir termasuk Prof. Ken Jimbo dari Keio University, Peter Conti-Brown dari The Wharton School University of Pennsylvania, dan sejarawan Inggris William Dalrymple.

