Pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu indikator utama untuk membaca arah perekonomian sebuah negara. Di Indonesia, perkembangan pertumbuhan ekonomi sejak 2020 hingga proyeksi 2027 menunjukkan pola yang fluktuatif, dipengaruhi dinamika global serta kondisi domestik yang bergantian menekan maupun mendorong kinerja ekonomi.
Berdasarkan Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025 yang dipublikasikan Bank Indonesia (BI), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 tercatat anjlok ke level -2,07%. Kontraksi ini mencerminkan tekanan berat pada aktivitas ekonomi nasional, terutama akibat pandemi Covid-19 yang juga menjadi tantangan besar bagi perekonomian dunia.
Memasuki 2021, perekonomian mulai menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan ekonomi kembali ke zona positif dan tercatat sebesar 3,70%. Pemulihan berlanjut pada 2022, ketika pertumbuhan meningkat menjadi 5,31%.
Setelah itu, laju pertumbuhan cenderung lebih stabil. Pada 2023, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,05% dan sedikit menurun menjadi 5,03% pada 2024.
Ke depan, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 berada di kisaran 4,7–5,5%. Proyeksi tersebut kemudian meningkat menjadi 4,9–5,7% pada 2026 dan menguat lagi menjadi 5,1–5,9% pada 2027. Rentang proyeksi ini menggambarkan peluang penguatan pertumbuhan dalam beberapa tahun mendatang.
Untuk menjaga dan mendorong tren tersebut, LPI menekankan pentingnya penguatan sinergi bauran kebijakan ekonomi nasional antara pemerintah dan Bank Indonesia. Penguatan kebijakan diarahkan untuk mendorong pertumbuhan dari sisi permintaan (demand) maupun penawaran (supply), sembari tetap menjaga stabilitas perekonomian secara keseluruhan.
Di tingkat regional, LPI juga mencatat proyeksi pertumbuhan ekonomi wilayah seiring perkembangan ekspor. Sumatra diperkirakan tumbuh 4,8–5,2%, Jawa 4,7–5,5%, Kalimantan 4,3–5,1%, Balinusra (Bali dan Nusa Tenggara) 4,2–5,0%, serta Sulampua (Sulawesi, Maluku, dan Papua) pada kisaran 4,2–4,8%.

