BERITA TERKINI
Tren Investasi 2026: Investor Mulai Beralih ke Strategi Lintas Aset, dari Saham Proksi hingga Derivatif

Tren Investasi 2026: Investor Mulai Beralih ke Strategi Lintas Aset, dari Saham Proksi hingga Derivatif

Jakarta — Perilaku investor aset kripto dan saham di Indonesia disebut mulai berubah pada 2026. Jika pada awal dekade 2020-an strategi yang lazim adalah mengikuti euforia pasar lalu bertahan saat harga turun, kini investor dinilai semakin taktis dalam mengelola portofolio.

Platform investasi multi-aset Pluang mencatat adanya pergeseran pendekatan, dari spekulasi murni menuju pengelolaan portofolio lintas aset. Investor tidak lagi hanya menumpuk aset, tetapi mulai memanfaatkan beragam instrumen—mulai dari “saham proksi” Amerika Serikat hingga instrumen derivatif—sebagai bagian dari strategi perlindungan nilai.

Perubahan ini terjadi di tengah kondisi makroekonomi global yang oleh sejumlah ekonom disebut sebagai “Soft Quantitative Easing” (Soft QE). Dalam narasi tersebut, peningkatan likuiditas pasar berlangsung halus namun konsisten. Soft QE digambarkan sebagai respons bank sentral global terhadap tingginya beban utang negara, antara lain melalui penyuntikan likuiditas ke pasar repo dan upaya menjaga imbal hasil obligasi tetap terkendali, yang pada akhirnya meningkatkan jumlah uang beredar (M2 Money Supply).

Dalam situasi ini, harga kebutuhan pokok mungkin terlihat stabil bagi masyarakat luas, namun investor melihat adanya “inflasi aset”. Dampaknya, memegang uang tunai dalam jumlah besar dianggap semakin mahal karena nilai uang fiat tergerus secara relatif terhadap aset yang dipandang langka (hard assets) seperti properti, emas, dan Bitcoin.

Kondisi tersebut mendorong investor keluar dari kebiasaan menabung konvensional, namun tetap dihadapkan pada risiko ketika memasuki aset volatil tanpa dukungan sarana yang memadai. Dalam pengamatan Pluang, platform teregulasi dinilai penting karena menyediakan akses ke berbagai kelas aset dalam satu aplikasi, sehingga investor dapat memindahkan dana dari tabungan tunai ke aset lindung nilai dengan lebih cepat.

Salah satu tren yang mengemuka pada 2026 adalah meningkatnya minat terhadap saham-saham Amerika Serikat yang dikaitkan memiliki korelasi erat dengan Bitcoin, yang disebut sebagai investasi pada “saham proksi”. Investor memandang eksposur terhadap pertumbuhan aset digital tidak selalu harus dilakukan dengan memegang koin secara langsung, melainkan dapat melalui saham perusahaan tertentu yang pergerakannya dinilai sejalan dengan dinamika kripto.

Dalam kategori ini, MicroStrategy (MSTR) disebut menjadi salah satu saham yang dilirik investor berorientasi pertumbuhan agresif. Minat tersebut dikaitkan dengan struktur perusahaan yang dinilai bertindak seolah-olah seperti ETF Bitcoin yang menggunakan utang (leverage). Ketika harga Bitcoin naik, nilai aset bersih perusahaan meningkat dan pergerakan sahamnya dapat mencatat kenaikan persentase yang lebih tinggi daripada Bitcoin.

Selain perusahaan yang memegang aset, investor juga disebut membidik infrastruktur pasar. Saham bursa kripto Coinbase (COIN) dan platform ritel Robinhood (HOOD) termasuk yang menjadi perhatian. Pertimbangannya, pada era likuiditas Soft QE, volume perdagangan aset berpotensi meningkat; semakin tinggi volume transaksi, semakin besar potensi pendapatan perusahaan-perusahaan tersebut. Dengan demikian, strategi investasi tidak semata bertaruh pada harga aset, melainkan pada aktivitas pasar.

Perubahan lain yang menonjol pada 2026 adalah meningkatnya penerimaan terhadap instrumen derivatif seperti futures dan options. Instrumen yang sebelumnya kerap dipersepsikan sebagai terlalu rumit atau berisiko tinggi mulai dipandang sebagai bagian dari manajemen risiko, seiring edukasi finansial dan akses fitur seperti Pluang Crypto Futures serta US Stock Options.

Di ekosistem Pluang, investor ritel disebut mulai menggunakan put options sebagai bentuk perlindungan portofolio. Put options digambarkan bekerja seperti asuransi: investor membayar premi untuk melindungi nilai aset. Jika pasar mengalami penurunan tajam, nilai put options dapat meningkat dan membantu menutup kerugian pada portofolio saham utama.

Selain itu, penggunaan short selling di pasar futures juga dilaporkan meningkat. Investor tidak lagi hanya bereaksi panik saat tren melemah, tetapi memanfaatkan peluang mengambil posisi short jangka pendek. Strategi ini memungkinkan investor memperoleh keuntungan dari penurunan harga dan digunakan untuk menyeimbangkan portofolio jangka panjang yang sedang terkoreksi.

Secara keseluruhan, 2026 ditandai oleh menipisnya batas antara investor saham dan investor kripto. Investor saham disebut ikut memantau Bitcoin untuk membaca pergerakan saham teknologi, sementara investor kripto memanfaatkan instrumen options saham AS untuk membantu melindungi nilai aset digital. Dalam dinamika ekonomi global yang dinilai cair dan penuh ketidakpastian, strategi lintas aset menjadi pendekatan yang semakin menonjol.