Harga emas dunia (XAUUSD) kembali menjadi perhatian pada perdagangan hari ini seiring menguatnya arus aset aman (safe-haven) di tengah ketegangan geopolitik global yang belum mereda. Emas spot masih bertahan di level tinggi dan diperdagangkan di atas area teknikal penting, mencerminkan sikap penghindaran risiko (risk-off) yang tetap dominan di pasar.
Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai kombinasi sentimen geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat masih menjaga bias bullish emas, terutama untuk jangka menengah. Dari sisi teknikal, ia menyoroti pergerakan harga yang tetap berada di atas level-level kunci sebagai sinyal bahwa struktur tren naik belum rusak.
Menurut Andy, jika tekanan bullish dapat dipertahankan dan tidak muncul sentimen negatif besar, emas berpeluang melanjutkan penguatan dan menguji area sekitar USD4.600 pada pekan depan. Proyeksi ini, kata dia, sejalan dengan kondisi pasar yang masih didominasi sentimen penghindaran risiko serta ekspektasi suku bunga yang lebih longgar.
Meski demikian, ia mengingatkan adanya skenario alternatif yang perlu dicermati pelaku pasar. Apabila harga emas berbalik arah dan menembus titik kunci di area USD4.139, potensi tekanan jual dinilai dapat meningkat dan membuka ruang penurunan lanjutan menuju sekitar USD4.025.
Andy menyarankan investor dan trader tetap disiplin dalam manajemen risiko, sembari memantau perkembangan data ekonomi AS dan dinamika geopolitik global yang berpotensi memengaruhi arah harga emas.
Geopolitik dan kebijakan moneter jadi penopang
Dari sisi fundamental, meningkatnya ketegangan geopolitik—termasuk situasi di Venezuela serta konflik global yang masih berlangsung—mendorong investor kembali memburu emas sebagai aset lindung nilai. Dalam kondisi ketidakpastian tinggi, emas secara historis kerap dipilih karena dinilai mampu menjaga nilai portofolio.
Andy menyebut arus safe-haven yang terus mengalir menjadi faktor utama yang mengangkat harga emas ke level relatif tinggi dan menopang pergerakan positifnya dalam beberapa sesi terakhir.
Dari sisi kebijakan moneter, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada 2026 juga dinilai menjadi katalis penting bagi pergerakan emas. Suku bunga yang lebih rendah cenderung menekan imbal hasil riil obligasi AS serta melemahkan dolar AS, dua faktor yang mendukung kenaikan harga emas.
Namun, ia mengingatkan data ekonomi AS yang terlalu kuat dapat menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga dan memicu tekanan korektif pada harga emas.
Selain itu, permintaan emas dari bank sentral global dan peningkatan alokasi portofolio ke aset emas turut memberi dukungan struktural. Banyak bank sentral dilaporkan terus menambah cadangan emas sebagai langkah diversifikasi dan perlindungan terhadap risiko global. Menurut Andy, permintaan jangka menengah ini memperkuat fondasi harga emas dan membatasi potensi penurunan yang terlalu dalam selama sentimen global tetap rapuh.

