Ketidakpastian geopolitik, perubahan kebijakan moneter global, serta percepatan revolusi kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan membentuk arah investasi pada 2026. Sejumlah analis menilai investor global perlu menyesuaikan strategi portofolio seiring potensi volatilitas pasar yang meningkat.
Laporan terbaru dari divisi Chief Investment Office DBS Bank memproyeksikan tiga kelas aset yang berpeluang menjadi fokus utama investor pada tahun depan, yakni emas, saham Asia, dan sektor teknologi yang terkait pengembangan AI.
Emas dinilai kian penting sebagai pelindung risiko
Emas diperkirakan tetap menjadi aset yang banyak dilirik sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko geopolitik, inflasi, dan pelemahan mata uang utama dunia. Ketegangan di Timur Tengah disebut sebagai salah satu faktor yang mendorong permintaan emas global.
Perhatian pasar juga tertuju pada Strait of Hormuz, jalur perdagangan energi yang vital bagi distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut dinilai dapat memicu lonjakan harga energi sekaligus meningkatkan ketidakpastian pasar.
Selain faktor geopolitik, pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara turut disebut sebagai pendukung tren kenaikan harga logam mulia dalam beberapa tahun terakhir.
Saham Asia dipandang menawarkan valuasi dan prospek pertumbuhan
Selain emas, saham di kawasan Asia diperkirakan menjadi salah satu tujuan utama aliran dana global. Pasar Asia dinilai memiliki valuasi yang lebih menarik dibandingkan negara maju, disertai prospek pertumbuhan laba yang lebih kuat.
China, India, serta sejumlah ekonomi Asia Tenggara diproyeksikan tetap menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang relatif solid. Kawasan ini juga dipandang memegang peran penting dalam rantai pasok teknologi global, khususnya pada industri semikonduktor dan perangkat keras.
Perubahan arus investasi juga terlihat dari rotasi portofolio global yang mulai mengurangi konsentrasi pada pasar Amerika Serikat yang diwakili indeks S&P 500, menuju pasar Asia dan Jepang.
Jepang, melalui indeks Nikkei 225, disebut masih menarik perhatian investor seiring dukungan reformasi tata kelola perusahaan, peningkatan dividen, serta program pembelian kembali saham oleh perusahaan.
Infrastruktur AI dan teknologi menjadi tema investasi berikutnya
Kelas aset ketiga yang diproyeksikan mendominasi investasi global adalah sektor teknologi yang terkait dengan pengembangan AI. Pertumbuhan AI dinilai tidak hanya menguntungkan perusahaan teknologi, tetapi juga sektor lain yang menjadi fondasi infrastruktur digital, seperti energi, utilitas, dan pusat data.
Analis melihat investasi besar dalam pembangunan pusat data dan komputasi AI berpotensi menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi global dalam beberapa tahun ke depan.
Perkembangan ini juga disebut dapat memengaruhi kebijakan moneter. Sejumlah ekonom, termasuk mantan pejabat bank sentral Amerika Serikat Kevin Warsh, menilai peningkatan produktivitas dari AI berpotensi memungkinkan penurunan suku bunga tanpa memicu lonjakan inflasi.
Meski peluang investasi dinilai masih terbuka, analis mengingatkan volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa tahun mendatang. Karena itu, diversifikasi portofolio disebut menjadi strategi utama untuk menjaga stabilitas investasi di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah.