BERITA TERKINI
The Economist Nilai Indonesia Relatif Tahan terhadap Guncangan Krisis Energi Global

The Economist Nilai Indonesia Relatif Tahan terhadap Guncangan Krisis Energi Global

Majalah ekonomi global The Economist menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang dinilai paling aman dari dampak krisis energi global di tengah konflik geopolitik antara Iran dan blok Israel–Amerika Serikat.

Penilaian tersebut mendapat respons dari anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha. Ia menilai capaian itu mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas energi nasional di tengah tekanan global, terutama terkait perdagangan minyak mentah yang melintasi Selat Hormuz.

“Ini sebagai bentuk keberhasilan pemerintah merespons situasi perdagangan minyak mentah, terutama yang melewati Selat Hormuz,” ujar Satya, Senin (23/3).

Dalam laporan berjudul Which Country is the Biggest Loser from the Energy Shock, The Economist mengkategorikan Indonesia sebagai negara dengan paparan risiko rendah namun memiliki bantalan ketahanan kuat (low exposure, strong buffer). Posisi ini dinilai lebih stabil dibandingkan sejumlah negara di kawasan, termasuk Vietnam.

Satya menjelaskan, ketahanan tersebut ditopang kombinasi strategi jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, pemerintah dinilai efektif mengedukasi masyarakat untuk menghemat energi, antara lain melalui penggunaan transportasi umum, kendaraan listrik, hingga pembatasan mobilitas lewat skema kerja dari rumah (WFH).

“Edukasi publik ini harus terus diperkuat di tengah ketidakpastian geopolitik,” katanya.

Untuk strategi jangka panjang, pemerintah mendorong pembangunan fasilitas penyimpanan (storage) guna memperkuat cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Selain itu, peningkatan eksplorasi minyak dan gas domestik dinilai krusial untuk mengurangi ketergantungan pada impor.

Saat ini, produksi minyak Indonesia berada di kisaran 600 ribu barel per hari, sementara konsumsi telah melampaui 1,5 juta barel per hari. Kesenjangan antara produksi dan konsumsi tersebut masih harus ditutup melalui impor dan peningkatan produksi dalam negeri.

DEN juga menekankan pentingnya peningkatan cadangan operasional energi agar mampu mencakup kebutuhan selama tiga bulan (coverage days) sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan global.

Ke depan, Satya menilai kombinasi edukasi masyarakat, diversifikasi energi, peningkatan cadangan, serta percepatan transisi energi menjadi kunci menjaga ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang.