Perbankan masih mencatat pertumbuhan kredit pada kisaran high single digit sepanjang 2025. Namun, pelaku industri menilai segmen kredit konsumsi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap perlu diwaspadai karena memiliki tingkat risiko yang relatif lebih tinggi dibandingkan segmen lainnya.
Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan mencapai 9,69% secara tahunan (year on year/yoy) sepanjang tahun lalu. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh pelonggaran standar penyaluran kredit.
Meski begitu, Gubernur BI Perry Warjiyo menilai segmen UMKM dan konsumsi masih menyimpan risiko sehingga perbankan cenderung lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan.
Director of Risk, Compliance, and Legal Allo Bank Indonesia, Ganda Raharja Rusli, mengatakan kredit ritel pada dasarnya sulit dihindari karena berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu, menurutnya, bank perlu mengandalkan teknologi dan proses underwriting yang lebih mendalam agar risiko kredit bermasalah dapat ditekan.
“Kredit retail itu nggak mungkin dihindari, karena kebutuhan masyarakat tetap ada. Cuma memang dibutuhkan teknologi dan juga underwriting yang lebih dalam lagi untuk bisa menghindarkan bank dari memberikan kredit yang pengembaliannya rendah kepada bank dan juga supaya kredit itu tidak membebani masyarakat,” ujar Ganda saat ditemui di Gedung A.A. Maramis, Rabu (22/1/2026).
Ganda menambahkan, perbankan juga mewaspadai dampak pengetatan ekonomi, khususnya terhadap kelas menengah. Menurutnya, kelompok ini dinilai paling merasakan tekanan karena tidak sepenuhnya terlindungi oleh bantuan sosial, sementara pada saat yang sama menghadapi peningkatan biaya hidup dan pajak.
“Yang golongan atas ekonominya tidak terlalu terpengaruh, yang golongan bawah mungkin dibantu oleh BLT. Yang di tengah ini yang banyak merasakan tekanan. Jadi kita akan terus memberikan kredit retail, tapi memang lebih berhati-hati,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Kepatuhan Bank Oke Indonesia, Efdinal Alamsyah. Ia mengakui tingkat kerugian dari kredit konsumsi relatif lebih tinggi dibandingkan segmen kredit lainnya, sehingga bank cenderung mengambil langkah lebih konservatif tahun ini.
“Untuk outlook tahun ini, kami melihat kredit konsumsi masih memiliki potensi, namun pertumbuhannya akan lebih moderat,” ujar Efdinal, Kamis (22/1/2026).
Ke depan, OK Bank menyatakan akan memprioritaskan nasabah dengan profil risiko yang lebih baik dengan mengandalkan data serta sistem credit scoring yang lebih ketat. Dengan pendekatan tersebut, Efdinal menilai kredit konsumsi tetap dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan, meski tidak seagresif tahun-tahun sebelumnya.

