BERITA TERKINI
Disertasi Doktor Antropologi UI Soroti ‘Finansialisasi dari Bawah’ lewat Praktik Utang Kartu Kredit

Disertasi Doktor Antropologi UI Soroti ‘Finansialisasi dari Bawah’ lewat Praktik Utang Kartu Kredit

Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menggelar promosi doktor Muhammad Nasrum pada Senin (02/02) di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI, Depok. Dalam sidang tersebut, Nasrum mempertahankan disertasi berjudul “Etnografi Utang Jalin-Kelindan Nilai, Agensi, dan Antarmuka Sosial Utang Kartu Kredit di Indonesia”.

Penelitian Nasrum menelaah fenomena Komunitas Kartu Kredit Indonesia (K3I) sebagai contoh “finansialisasi dari bawah”, yakni proses ketika aktor non-elite secara aktif mengadopsi, mengadaptasi, dan memanipulasi teknologi finansial untuk mendorong mobilitas ekonomi.

Nasrum menyatakan, disertasinya menawarkan pembacaan yang berbeda dari pandangan umum yang kerap menempatkan kartu kredit semata sebagai instrumen konsumsi. Ia menemukan bahwa kartu kredit juga dimanfaatkan sebagai modal usaha dan alat leverage bisnis, terutama oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pekerja informal.

Untuk memetakan praktik tersebut, Nasrum menggunakan pendekatan etnografi dan menyusun arsitektur analitis lima pilar: agensi kalkulatif, arbitrase temporal, alkimia moral, performativitas identitas keuangan, dan antarmuka sosial. Menurutnya, finansialisasi dari bawah merupakan fenomena multidimensi yang melibatkan transformasi kognitif, temporal, moral, performatif, dan komunal secara simultan.

Ia menjelaskan bahwa sejak berdiri pada awal 2010-an, K3I berkembang menjadi komunitas pembelajaran dengan lebih dari 216.000 anggota alumni lokakarya dari 640 angkatan. Nasrum menilai, daya tarik akademisnya bukan hanya pada skala komunitas, tetapi juga pada karakter K3I yang secara terbuka mengajarkan strategi pemanfaatan sistem kartu kredit untuk memperoleh keuntungan finansial.

Melalui lokakarya dan platform digital, anggota K3I disebut mengembangkan agensi kalkulatif, yakni kemampuan menghitung risiko, membaca struktur biaya tersembunyi, serta memanfaatkan dinamika waktu pembayaran utang secara strategis.

Berdasarkan wawancara mendalam dengan 47 informan dari beragam latar belakang sosial-ekonomi, Nasrum menemukan bahwa anggota K3I memiliki pemahaman yang kompleks tentang mekanisme bunga majemuk, biaya kartu kredit, dan efek pengganda utang. Temuan ini, menurutnya, menantang narasi dominan yang memosisikan pengguna kartu kredit sebagai subjek pasif dalam sistem keuangan.

Dalam disertasinya, Nasrum mengidentifikasi tujuh temuan utama yang dinilainya relevan secara teoretis melampaui konteks K3I, yakni: finansialisasi dari bawah sebagai apropriasi aktif; temporalitas sebagai arena agensi tersembunyi; alkimia moral sebagai proses negosiasi nilai; performativitas sebagai strategi bertahan; komunitas sebagai infrastruktur epistemik alternatif; ambivalensi sebagai kondisi normal praktik ekonomi kontemporer; serta agensi sebagai fenomena yang bersifat kolektif sekaligus individual.

Dari sisi kebijakan, penelitian ini disebut memiliki implikasi bagi literasi finansial, regulasi perbankan, dan sistem kredit di Indonesia. Nasrum menilai terdapat kesenjangan antara desain sistem kredit formal dan kebutuhan riil masyarakat, terutama pelaku UMKM dan sektor informal.

Ia merekomendasikan pengembangan produk kredit yang lebih fleksibel dan transparan, reformasi sistem penilaian kredit agar lebih inklusif, serta pergeseran paradigma literasi finansial dari sekadar penghindaran utang menuju manajemen utang yang strategis.

Nasrum juga mengusulkan model Epistemic Credit Synergy (ECS), yaitu pengakuan terhadap komunitas seperti K3I sebagai mitra edukasi finansial yang dapat menjembatani sektor formal dan informal. Model ini diharapkan mendorong formalisasi praktik ekonomi informal menjadi produk keuangan yang lebih adil dan transparan.

Lebih luas, disertasi ini menyoroti agensi kelompok marginal yang kerap dipandang sebagai korban pasif sistem keuangan. Dalam penelitian tersebut, mereka ditampilkan sebagai aktor strategis yang aktif menavigasi ketimpangan struktural. Nasrum menambahkan, temuan dan konsep finansialisasi dari bawah yang ia kembangkan juga relevan untuk konteks negara-negara Global South lain seperti Brasil, India, dan Filipina.