Bank Indonesia (BI) meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak ekonomi eksternal yang kian tereskalasi akibat ketegangan geopolitik global.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI Juli Budi Winantya mengatakan, penguatan intervensi dilakukan melalui pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta transaksi di pasar offshore. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan media di Bandung, Jumat.
Selain intervensi, BI juga mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, termasuk penguatan instrumen pasar uang, untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung ketahanan eksternal perekonomian.
“Intensitas BI dalam intervensi semakin kuat, didukung tidak hanya di spot, tapi di forward, baik dalam negeri maupun luar negeri DNDF dan kebijakan terkait transaksi valas akan kita lakukan sebagai bentuk komitmen BI menjaga stabilitas,” kata Juli.
Menurutnya, tekanan eksternal hingga kini belum mereda. Tekanan tersebut dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi dan komoditas akibat disrupsi produksi dan distribusi di kawasan ladang minyak dan gas, serta jalur pelayaran global.
Disrupsi itu turut mendorong kenaikan harga pangan dan komoditas global yang menambah tekanan inflasi. Seiring perkembangan tersebut, BI merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3 persen dari sebelumnya 3,1 persen. Sementara itu, proyeksi inflasi global dinaikkan menjadi 4,2 persen dari 4,1 persen.
Dengan pertumbuhan global yang diperkirakan lebih rendah dan inflasi yang meningkat, BI menilai ruang pelonggaran kebijakan moneter global menjadi semakin terbatas. Arah kebijakan bank sentral dunia, termasuk The Federal Reserve, juga diperkirakan akan menahan suku bunga lebih lama.
Kondisi itu dinilai mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) dan memperkuat dolar AS. Dampaknya, tekanan terhadap arus modal di negara berkembang, termasuk Indonesia, meningkat.
“Daya tarik aset keuangan AS meningkat, sehingga terjadi pergeseran aliran modal global,” ujar Juli.
Di dalam negeri, Juli menyampaikan neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus, terutama ditopang oleh ekspor nonmigas. Cadangan devisa pada Maret 2026 juga tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS, yang dinilai cukup untuk mendukung stabilitas eksternal.
BI menyatakan akan terus mencermati perkembangan global dan memperkuat respons kebijakan guna menjaga stabilitas makroekonomi serta sistem keuangan nasional.
Adapun nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (24/4) berada di level Rp17.229 per dolar AS, menguat 57 poin atau 0,33 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.286 per dolar AS. Pada Kamis (23/4), rupiah sempat melemah menembus Rp17.304 per dolar AS.