BERITA TERKINI
Mirae Asset: Reformasi Pasar Modal Jadi Penopang di Tengah Pembekuan Rebalancing MSCI

Mirae Asset: Reformasi Pasar Modal Jadi Penopang di Tengah Pembekuan Rebalancing MSCI

Jakarta – Pasar modal Indonesia kembali berada di bawah tekanan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan pembekuan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026. Keputusan tersebut turut membebani pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang ditutup melemah 0,46 persen ke level 7.559 pada perdagangan Selasa (21/4).

Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai tekanan pasar saat ini perlu ditempatkan dalam konteks ketidakpastian global. Menurutnya, pelemahan rupiah lebih mencerminkan kombinasi sentimen risk-off global dan meningkatnya risk premium domestik, bukan akibat krisis kebijakan domestik yang ekstrem.

“Pelemahan rupiah saat ini lebih mencerminkan kombinasi sentimen risk-off global dan meningkatnya risk premium domestik, bukan disebabkan oleh krisis kebijakan yang ekstrem,” kata Rully dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Rupiah tercatat ditutup di level Rp17.295 per dolar AS pada 23 April 2026, atau melemah sekitar 3,5 persen sejak awal tahun. Meski demikian, Mirae Asset menilai pelemahan tersebut masih relatif lebih baik dibandingkan beberapa mata uang emerging markets lain, seperti Rupee India dan Lira Turki.

MSCI menyatakan pembekuan rebalancing dilakukan sambil mengevaluasi konsistensi dan efektivitas kebijakan baru otoritas pasar modal Indonesia, terutama terkait transparansi kepemilikan saham dan rencana kenaikan batas minimum free float menjadi 15 persen. MSCI juga menunda penambahan Foreign Inclusion Factors (FIF) serta perubahan klasifikasi sejumlah saham Indonesia dalam indeksnya.

Di sisi lain, Rully menyoroti adanya kemajuan reformasi yang dijalankan otoritas pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) disebut telah menyelesaikan empat dari delapan agenda reformasi transparansi pasar modal yang diumumkan pada awal April 2026.

Empat agenda yang telah diselesaikan itu mencakup publikasi daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, pengungkapan kepemilikan saham di atas 1 persen secara bulanan, perluasan klasifikasi investor KSEI, serta penerapan aturan minimum free float 15 persen.

Rully menilai langkah reformasi tersebut menjadi sinyal positif bagi pasar. Ia menyebut penguatan IHSG sejak awal April menunjukkan kepercayaan investor terhadap komitmen reformasi otoritas masih cukup terjaga, meski volatilitas tetap tinggi.

“Pasar kini akan mencermati sejauh mana konsistensi reformasi dapat dipertahankan dan bagaimana MSCI menilai efektivitas kebijakan yang telah diterapkan,” imbuhnya.

Sejak pengumuman reformasi pada 2 April 2026, IHSG tercatat menguat sekitar 8 persen. Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada MSCI Index Review pada 12 Mei 2026 dan hasil Market Accessibility Review pada Juni 2026, yang dinilai dapat memengaruhi arah pasar domestik serta persepsi investor global terhadap pasar modal Indonesia.