BERITA TERKINI
Kemenperin: Investasi Manufaktur Tembus Rp 418,62 Triliun, 633 Perusahaan Bangun Fasilitas Baru

Kemenperin: Investasi Manufaktur Tembus Rp 418,62 Triliun, 633 Perusahaan Bangun Fasilitas Baru

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan investasi di sektor manufaktur mencapai Rp 418,62 triliun pada awal 2026. Arus investasi tersebut dinilai mencerminkan daya tahan industri nasional dalam menghadapi guncangan ekonomi global.

Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) per 23 April 2026, tercatat 633 perusahaan sedang membangun fasilitas produksi baru. Aktivitas ini berpotensi menyerap 219.684 tenaga kerja serta memperkuat basis industri dalam negeri.

“Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan hasil yang kuat. Kontribusinya terus meningkat, penyerapan tenaga kerja bertambah, investasi semakin tumbuh, dan tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional,” kata juru bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief di Jakarta, dikutip Sabtu (25/4/2026).

Febri merinci, ekspansi industri terjadi di berbagai subsektor. Industri pengolahan tembakau menjadi subsektor dengan jumlah pembangunan fasilitas terbanyak, yakni 72 perusahaan. Posisi berikutnya ditempati industri minuman dengan 67 perusahaan dan industri makanan 60 perusahaan. Sementara itu, industri bahan kimia mencatat 49 perusahaan yang juga tengah membangun fasilitas baru.

Dari sisi nilai investasi, industri logam dasar menjadi penyumbang terbesar dengan total Rp 218,04 triliun yang berasal dari 24 perusahaan. Setelah itu, industri bahan kimia membukukan investasi Rp 81,22 triliun, disusul industri barang galian bukan logam sebesar Rp 12,10 triliun. Komposisi ini disebut mencerminkan penguatan sektor hulu sekaligus konsistensi arah hilirisasi nasional.

Kemenperin menyatakan capaian investasi tersebut sejalan dengan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas yang mencapai 5,30 persen pada 2025. Pertumbuhan ini melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,11 persen, yang disebut sebagai capaian pertama dalam 14 tahun terakhir.

Kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) juga dilaporkan meningkat, dari 17,92 persen pada triwulan II 2022 menjadi 19,20 persen pada triwulan IV 2025. Kenaikan sekitar 1,28 poin persentase ini mempertegas peran manufaktur sebagai salah satu motor penggerak ekonomi.