Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai fondasi ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika pasar global. Menurut dia, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak mencerminkan adanya pemburukan fundamental ekonomi nasional.
Pada penutupan perdagangan Jumat sore, 24 April 2026, rupiah tercatat menguat 0,52% ke level 17.205 per dolar AS. Penguatan tersebut dinilai meredakan kekhawatiran sebagian pihak terkait potensi pelemahan mata uang domestik.
Purbaya mengatakan posisi rupiah relatif masih lebih kuat dibandingkan sejumlah negara di kawasan. “Saya ini bukan tanda pemburukan atau dipicu oleh memburuknya ekonomi domestik. Dibanding negara lain kita masih kuat. Bahkan dibanding Malaysia, Thailand, dan lain-lain masih kuat,” ujar Purbaya di Jakarta, Jumat, 24 April 2026, dikutip dari keterangan resmi, Sabtu (25/4/2026).
Ia menambahkan, fondasi ekonomi Indonesia disebut tidak berubah dan diproyeksikan semakin kokoh ke depan. Pemerintah, kata dia, berupaya mempercepat perbaikan berbagai kendala struktural dalam perekonomian. “Tapi yang jelas adalah fondasi ekonomi kita tidak berubah. Bahkan akan semakin cepat, karena kita akan semakin serius memperbaiki kendala-kendala di perekonomian,” ujarnya.
Optimisme terhadap ketahanan rupiah juga dikaitkan dengan target pertumbuhan ekonomi. Pemerintah membidik pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 mencapai 5,7% dan target tahunan sebesar 6%. Untuk mengejar sasaran tersebut, pemerintah disebut akan mengandalkan berbagai instrumen, termasuk percepatan belanja negara guna menjaga momentum pertumbuhan.
Dari sisi eksternal, kekuatan ekonomi Indonesia turut ditopang surplus perdagangan yang telah berlangsung 70 bulan berturut-turut hingga awal 2026. Sementara di dalam negeri, daya tahan ekonomi disebut ditopang konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, inflasi yang terkendali, serta pengelolaan fiskal yang disiplin.
Pemerintah juga menilai stabilitas ekonomi didukung rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang rendah serta kebijakan hilirisasi yang berkelanjutan. Dengan sejumlah indikator tersebut, pemerintah optimistis pergerakan rupiah akan tetap stabil di tengah tekanan global.
Sebelumnya, Purbaya juga menyampaikan bahwa sejumlah lembaga pemeringkat dan institusi keuangan global memberikan penilaian positif terhadap ekonomi Indonesia di tengah sentimen negatif yang beredar. Menurutnya, persepsi negatif di publik tidak sepenuhnya sejalan dengan pandangan lembaga internasional. Ia menyebut institusi seperti JPMorgan, ADB, dan S&P menilai fundamental ekonomi Indonesia masih solid.
“Jadi banyak noise yang membuat menimbulkan sentimen negatif di mana-mana. Ini padahal lembaga dunia bilang. Padahal lembaga dunia yang paling canggih sudah bilang bagus. JPMorgan, ADB, S&P juga nggak komplain banyak,” ujar Purbaya dalam Media Briefing, Jumat (24/4/2026).
Purbaya mengatakan pemerintah telah memberikan penjelasan komprehensif mengenai arah kebijakan ekonomi dalam pertemuan dengan lembaga pemeringkat dan investor global, yang dinilai dapat mengubah pandangan sebagian investor asing terhadap Indonesia.
Meski demikian, ia mengakui masih ada sejumlah catatan, salah satunya terkait rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan negara. Untuk merespons hal tersebut, pemerintah disebut terus memperkuat sektor perpajakan guna menjaga kesehatan fiskal. “Makanya kita perbaiki pajaknya. Karena interest payment kan kalau PNBP nggak masuk kan. Jadi pembaginya income, pajakan. Saya kan perkuat perpajakannya,” jelasnya.
Menurut Purbaya, penguatan penerimaan negara menjadi langkah penting agar struktur fiskal tetap terjaga dan mampu merespons berbagai tantangan ekonomi global.