BERITA TERKINI
Tekanan Geopolitik dan Proteksionisme AS Picu Volatilitas Rupiah, BWS Perkuat Manajemen Risiko untuk 2026

Tekanan Geopolitik dan Proteksionisme AS Picu Volatilitas Rupiah, BWS Perkuat Manajemen Risiko untuk 2026

Jakarta — Dinamika geopolitik global pada 2026 diperkirakan kembali menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan dunia. Ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya risiko konflik di Timur Tengah mendorong volatilitas di berbagai kelas aset, mulai dari saham, komoditas, hingga nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif dagang hingga 15% sebagai bagian dari kebijakan proteksionisme lanjutan. Pasar merespons dengan meningkatnya kekhawatiran akan potensi perang dagang baru yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi global. Dalam situasi tersebut, aset berisiko cenderung tertekan, sementara investor melakukan rotasi ke instrumen safe haven seperti dolar AS dan emas.

Tekanan pasar juga diperkuat oleh risiko geopolitik akibat konflik AS–Iran. Situasi disebut meningkat setelah negosiasi terkait pengembangan senjata nuklir berakhir menjadi perang terbuka. Kombinasi kebijakan perdagangan agresif dan ketegangan geopolitik itu turut memperkuat dolar AS dan meningkatkan volatilitas nilai tukar di pasar negara berkembang.

Analis Nh Korindo Sekuritas Indonesia, Leonardo Lijuwardi, menilai tekanan eksternal pada 2026 memiliki karakter berbeda dibandingkan periode sebelumnya. Menurut dia, ketika kebijakan perdagangan dan risiko geopolitik berlangsung bersamaan, volatilitas pasar cenderung meningkat sehingga negara berkembang perlu memperkuat stabilitas domestik agar tidak terlalu rentan terhadap guncangan eksternal.

Leonardo menambahkan, kondisi tersebut menuntut industri perbankan menerapkan strategi yang lebih adaptif dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Volatilitas rupiah dinilai berpotensi memengaruhi biaya dana, kualitas aset, serta permintaan kredit dari sektor usaha yang terdampak fluktuasi kurs dan harga komoditas.

Ia menekankan pentingnya langkah antisipatif perbankan melalui penjagaan likuiditas yang memadai, penguatan pencadangan risiko, dan peningkatan selektivitas dalam ekspansi kredit. Menurutnya, stabilitas sistem keuangan menjadi prioritas agar kepercayaan nasabah tetap terjaga di tengah ketidakpastian pasar global. Ia juga memandang 2026 sebagai periode uji daya tahan industri keuangan, di mana bank dengan struktur likuiditas kuat dan manajemen risiko yang teruji akan relatif lebih resilien menghadapi tekanan eksternal.

Dalam konteks tersebut, Bank Woori Saudara (BWS) disebut memperkuat strategi bisnis pada 2026 dengan fokus pada penguatan manajemen risiko, penjagaan likuiditas, serta selektivitas penyaluran kredit. Strategi ini diarahkan untuk menjaga stabilitas kinerja dan memperkuat daya tahan bisnis di tengah dinamika pasar.

Leonardo menilai BWS memiliki karakter unik karena dukungan likuiditas dari induk usaha, Woori Bank Korea. Dukungan tersebut disebut cukup untuk menopang ekspansi kredit BWS.

Hingga akhir kuartal III 2025, BWS mengelola dana pihak ketiga sebesar Rp32,42 triliun dengan porsi terbesar berasal dari deposito. BWS juga tercatat memiliki dukungan likuiditas dari Woori Bank Korea serta bank lain yang masuk sebagai pembiayaan yang diterima senilai Rp12 triliun.

Leonardo memprediksi perbankan, termasuk BWS, akan lebih banyak menyalurkan kredit ke sektor-sektor dengan fundamental kuat dan prospek yang tetap tumbuh meskipun menghadapi tekanan eksternal. Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga kualitas aset sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Adapun hingga kuartal III 2025, BWS mencatat penyaluran kredit sebesar Rp46,11 triliun dengan total aset mencapai Rp59,63 triliun.