JAKARTA — Studi terbaru dari Institute for Economic and Social Research, Faculty of Economics and Business, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan platform fintech lending AdaKami berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar Rp6,95–10,96 triliun pada 2024. Estimasi tersebut setara dengan sekitar USD 411–649 juta, yang dihitung melalui efek pengganda (multiplier effect) dari penyaluran pinjaman.
Dalam studi tersebut, AdaKami disebut sebagai platform fintech lending yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta telah beroperasi di Indonesia sejak 2018. Penyaluran pinjaman dinilai mendorong perputaran ekonomi dengan mendukung belanja rumah tangga dan aktivitas usaha, sehingga menghasilkan nilai tambah pada sedikitnya 185 sektor ekonomi.
LPEM FEB UI juga memperkirakan pembiayaan yang disalurkan AdaKami mendukung penyerapan tenaga kerja bagi sekitar 47.000–78.000 orang di 17 sektor, termasuk perdagangan, pendidikan, dan pertanian.
Deputy Head of LPEM FEB UI, Mohamad Dian Revindo, menjelaskan penyaluran pinjaman dapat memicu efek berantai melalui peningkatan konsumsi rumah tangga dan aktivitas bisnis. Dampak tersebut, menurutnya, turut mendorong sektor-sektor seperti ritel, transportasi, manufaktur, dan industri primer, yang pada akhirnya meningkatkan aktivitas ekonomi dan produksi.
Selain menopang konsumsi, riset ini menyoroti peran fintech lending dalam mendukung pertumbuhan usaha mikro. Di antara pengguna AdaKami yang meminjam untuk tujuan usaha, 53,1% menggunakan pembiayaan untuk menambah persediaan barang, sementara 28,1% melaporkan adanya pertumbuhan pendapatan.
Studi itu juga mencatat adanya permintaan tinggi terhadap akses pembiayaan yang mudah dijangkau. Sekitar 24,5% pengguna menyatakan bahwa tanpa pembiayaan formal, mereka akan mengandalkan tabungan atau menjual aset untuk memenuhi kebutuhan. Temuan ini mengindikasikan fintech lending dapat membantu menjembatani kesenjangan pembiayaan yang dihadapi sebagian rumah tangga dan pelaku usaha mikro.
Dari sisi literasi keuangan, penelitian menemukan mayoritas responden menunjukkan pemahaman atas biaya pinjaman. Sebanyak 89,2% responden menyatakan memahami suku bunga, biaya, dan tenor pinjaman, yang dinilai mencerminkan kesadaran terhadap biaya serta kewajiban finansial.
Chief of Public Affairs AdaKami, Karissa Sjawaldy, mengatakan temuan studi tersebut menegaskan pentingnya penyaluran pembiayaan yang dikelola secara hati-hati dan bertanggung jawab untuk mendukung ketahanan ekonomi serta memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Ia juga menyebut pihaknya terdorong untuk terus menyediakan layanan yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan literasi agar pengguna dapat mengelola keuangan secara bertanggung jawab.
Secara umum, studi ini menyimpulkan pembiayaan AdaKami membantu rumah tangga memenuhi kebutuhan mendesak dan menjaga tingkat konsumsi, sekaligus memperlihatkan peran fintech lending yang kian berkembang dalam ekosistem keuangan formal di Indonesia.