Bulan suci Ramadhan kerap menjadi momen persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri, termasuk tradisi belanja Lebaran—mulai dari pakaian hingga kebutuhan hidangan keluarga. Namun tanpa perencanaan, pengeluaran dapat meningkat dan membebani kondisi finansial.
Sejumlah rujukan menekankan pentingnya literasi dan perencanaan keuangan agar keputusan belanja lebih bijak. Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) menyebut literasi keuangan membantu individu mengambil keputusan belanja yang lebih tepat, sebuah prinsip yang relevan di Ramadhan ketika konsumsi cenderung naik. Sementara itu, riset dari APA menunjukkan perilaku konsumtif kerap dipicu emosi dan dorongan sesaat, sehingga pemahaman psikologi belanja dapat membantu pengendalian diri.
Berikut beberapa strategi belanja Lebaran agar pengeluaran tetap terkendali selama Ramadhan, sebagaimana dirangkum dari Consumer Finance dan Harvard Business School.
1. Membuat anggaran khusus Lebaran
Langkah awal yang disarankan adalah menetapkan anggaran belanja Lebaran sejak awal Ramadhan. Anggaran berfungsi sebagai batas pengeluaran agar tidak melampaui kemampuan finansial. Consumer Financial Protection Bureau merekomendasikan pembuatan rencana pengeluaran sebagai dasar pengelolaan keuangan yang sehat. Dalam penyusunannya, dana sebaiknya dipisahkan untuk kebutuhan seperti zakat dan sedekah, kebutuhan pokok, serta belanja pakaian, dengan menempatkan kewajiban sebagai prioritas sebelum keinginan.
2. Membuat daftar belanja dan mematuhinya
Belanja tanpa daftar kerap berujung pada pembelian impulsif. Karena itu, daftar belanja diperlukan agar fokus tetap pada kebutuhan utama. Harvard Business School menekankan bahwa perencanaan sebelum berbelanja dapat mengurangi keputusan impulsif. Daftar dapat mencakup kebutuhan seperti bahan kue kering, sirup, atau busana muslim, sekaligus menjadi pengingat untuk menghindari penambahan barang di luar rencana.
3. Menghindari belanja saat emosi atau lapar
Kondisi emosional turut memengaruhi keputusan finansial. Berbelanja ketika lelah atau lapar berisiko membuat pertimbangan menjadi kurang rasional. Riset University of Minnesota menemukan rasa lapar dapat meningkatkan kecenderungan pembelian impulsif. Dalam konteks puasa, belanja disarankan dilakukan setelah berbuka atau saat tubuh dan pikiran lebih tenang agar keputusan yang diambil lebih bijak.

