Pariwisata Indonesia mulai bergeser dari sekadar menawarkan panorama alam. Tren wisata olahraga atau sports tourism kian menonjol dan dipandang sebagai salah satu mesin penggerak ekonomi baru, seiring meningkatnya minat masyarakat dan wisatawan pada kegiatan berbasis olahraga.
Penguatan arah kebijakan terlihat dari sinergi Kementerian Pariwisata dan Kementerian Pemuda dan Olahraga yang menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada penghujung 2025. Langkah ini sejalan dengan gambaran pasar global. Data UN Tourism mencatat, wisata olahraga menyumbang 10% dari total belanja wisata dunia pada 2023, dan diproyeksikan tumbuh hingga 17,5% pada periode 2023–2030.
Segmen ini juga dikenal memiliki daya belanja tinggi. Survei Expedia menyebut 44% pelancong bersedia terbang ke luar negeri untuk menonton atau mengikuti ajang olahraga, dengan rata-rata pengeluaran mencapai USD 1.500 atau sekitar Rp23 juta per kunjungan.
Mandalika jadi contoh dampak ekonomi
Kawasan Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB) kerap disebut sebagai salah satu contoh paling menonjol dari pengembangan sports tourism. Penguatan merek destinasi lewat gelaran MotoGP dinilai memberikan dampak langsung pada pergerakan ekonomi setempat.
Data Indonesia Tourism Outlook menunjukkan peningkatan okupansi hotel dalam beberapa tahun terakhir. Tingkat hunian hotel berbintang naik dari 33,51% pada 2021 menjadi 40,39% pada 2024. Sementara hotel non-bintang mencatat kenaikan lebih tajam, dari 14,61% menjadi 28,16% pada periode yang sama.
Dampaknya juga dikaitkan dengan kondisi sosial ekonomi. Tingkat kemiskinan di Lombok Tengah tercatat turun dari 13,44% pada 2020 menjadi 12,07% pada 2024. Pada level provinsi, angka kemiskinan NTB menyusut dari 13,97% menjadi 12,91% dalam rentang waktu yang sama.
Selain balap motor, Mandalika juga menjadi lokasi ajang lari Pocari Sweat Run Mandalika pada September 2025. Event ini disebut mendatangkan 70% peserta dari luar Lombok dan mencatat dampak ekonomi sebesar Rp85,5 miliar.
Demam lari di kota besar
Di Jakarta, BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) menjadi salah satu ajang yang menarik perhatian. Dengan predikat World Athletics Label Road Races dan jumlah peserta lebih dari 30 ribu pelari, kegiatan ini turut mendorong okupansi hotel di sekitar rute lomba. Kehadiran peserta yang datang bersama keluarga juga memunculkan efek berganda bagi sektor kuliner dan ritel.
Fenomena serupa terlihat dari tumbuhnya komunitas dan event lari di berbagai kota besar. Ajang-ajang ini umumnya diikuti ribuan pelari amatir yang menjadikan olahraga sebagai aktivitas rekreasi, sekaligus memunculkan potensi perputaran ekonomi di daerah penyelenggara.
Dari balapan air hingga atraksi udara
Diversifikasi sports tourism juga muncul lewat kegiatan olahraga air dan udara. Danau Toba menjadi tuan rumah Aquabike Jetski World Championship yang diikuti 53 riders serta F1 Powerboat dengan 24 drivers pada Agustus 2025. Di bawah pengelolaan MGPA, rangkaian kegiatan ini dikemas sebagai pesta rakyat dan ditujukan untuk mendongkrak ekonomi lokal.
Sementara itu, Lombok juga menjadi lokasi Paragliding Accuracy World Cup 2025 yang diikuti 47 atlet dari delapan negara.
Ke depan, pasar wisata olahraga di Indonesia diperkirakan terus membesar seiring perubahan gaya hidup. Survei Nielsen 2025 mencatat 86% masyarakat Indonesia kini proaktif menjaga kesehatan, lebih tinggi dibanding rata-rata global yang berada di angka 70%.

