Rantai pasokan global menghadapi tekanan baru setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi ekspor minyak. Dalam pernyataannya di televisi pemerintah IRIB pada 2 Maret, Ebrahim Jabbari, penasihat senior Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), mengatakan selat tersebut “sekarang ditutup” dan menegaskan angkatan bersenjata Iran akan mengambil tindakan tegas terhadap kapal tanker minyak yang melintas.
Perkembangan ini segera tercermin pada pasar energi. Pada 3 Maret di London, harga minyak mentah Brent Laut Utara naik lebih dari 8% menjadi US$85,12 per barel, level tertinggi sejak Juli 2024. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat lebih dari 7% ke US$76,47 per barel. Kenaikan terjadi di tengah gangguan pasokan yang dikaitkan dengan konflik di Timur Tengah, penutupan jalur pelayaran utama melalui Selat Hormuz, serta serangan terhadap infrastruktur energi.
Dampak konflik turut menjalar ke sektor penerbangan. Harga tiket pesawat untuk rute Asia–Eropa dilaporkan meroket setelah sejumlah pusat transit udara utama di Timur Tengah terpaksa ditutup akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kelangkaan tiket terjadi di banyak rute populer, dengan sejumlah situs pemesanan menampilkan status “habis terjual” selama beberapa hari berturut-turut. Dubai—bandara internasional tersibuk di dunia yang biasanya menangani lebih dari 1.000 penerbangan per hari—ditutup untuk hari keempat pada 3 Maret.
Di Eropa, meningkatnya ketegangan memunculkan kekhawatiran baru terkait pasokan gas. Surat kabar Prancis La Tribune pada 2 Maret melaporkan risiko krisis gas baru di Eropa meningkat setelah Qatar Energy mengumumkan penangguhan sementara produksi gas alam cair (LNG) akibat serangan pesawat tak berawak. Informasi tersebut memicu reaksi pasar yang kuat, dengan harga gas di Eropa naik hampir 50% dalam waktu singkat.
Bank Sentral Eropa (ECB) memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dan penurunan pasokan energi yang berkelanjutan dapat mendorong inflasi di Zona Euro dan menekan pertumbuhan ekonomi. ECB menyatakan besarnya dampak serta konsekuensinya terhadap inflasi jangka menengah akan bergantung pada cakupan dan durasi konflik.
Sementara itu, data pelacak pengiriman Kpler menunjukkan China saat ini menimbun sejumlah besar minyak mentah. Negara tersebut mulai secara bertahap mengurangi impor minyak dari Iran sejak awal 2026, sambil meningkatkan impor dari Rusia, tepat sebelum eskalasi konflik di Timur Tengah pada akhir pekan lalu. Pada 2025, Iran mengekspor 520 juta barel minyak mentah ke China.
Di pasar mata uang, yuan (CNY) menguat pada 3 Maret setelah Bank Rakyat China (PBoC) memberi sinyal dukungan terhadap tren penguatan melalui penyesuaian nilai tukar harian, menjelang Kongres Rakyat Nasional. Dalam perdagangan pagi, CNY di pasar domestik sempat naik hingga 0,5% menjadi 6,8750 per dolar AS, yang disebut sebagai kenaikan harian terkuat sejak 12 Mei 2025.
Dari sisi aktivitas perdagangan, China mencatat lonjakan kuat sebelum konflik Timur Tengah meletus. Data Kementerian Transportasi China yang dirilis pada 2 Maret menunjukkan lebih dari 59 juta kontainer melewati pelabuhan negara itu dalam sembilan minggu pertama 2026, meningkat lebih dari 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, analis memperingatkan bahwa meningkatnya ketegangan berpotensi memicu gangguan baru pada arus perdagangan global.

