Sejumlah peristiwa ekonomi menonjol terjadi pada 24 Februari 2026, mulai dari pemberlakuan tarif impor baru oleh Amerika Serikat (AS) hingga langkah pengendalian ekspor oleh China. Di sisi lain, beberapa perkembangan di sektor teknologi, industri, dan transportasi turut menjadi perhatian pasar.
AS memberlakukan tarif tambahan 10% untuk barang impor
Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) mengumumkan bahwa mulai 24 Februari, AS memberlakukan tarif baru sebesar 10% untuk semua barang yang tidak termasuk dalam daftar pengecualian. Kebijakan ini merupakan tarif yang sama seperti yang diumumkan Presiden Donald Trump pada 20 Februari, bukan tarif 15% yang sempat diancam akan diberlakukan sehari setelahnya.
UE dan China bereaksi terhadap kebijakan tarif baru AS
Perkembangan kebijakan perdagangan pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump memicu kekhawatiran dari Uni Eropa (UE) hingga China. Dinamika tersebut dinilai berpotensi mengganggu kesepakatan yang baru dicapai dan meningkatkan ketidakstabilan di pasar global.
Putusan Mahkamah Agung AS pada 20 Februari, yang sebagian menolak sistem tarif Presiden Donald Trump saat ini, sempat diperkirakan dapat membantu meredakan ketegangan perdagangan global. Namun, perkembangan cepat setelahnya menampilkan situasi yang lebih kompleks, dengan hambatan tarif disebut cenderung menjadi bagian dari “normal baru”.
Tarif dinilai belum mengurangi defisit perdagangan AS
Laporan The Wall Street Journal menyebut tarif yang ditolak Mahkamah Agung AS pada 20 Februari—dan yang telah dijanjikan Trump untuk diberlakukan kembali melalui dasar hukum lain—sejauh ini belum mencapai salah satu tujuan utama yang dinyatakan, yakni menyeimbangkan kembali perdagangan global yang semakin timpang. Data terbaru justru menunjukkan tarif tersebut memperkuat ketidakseimbangan.
Daya saing teknologi tinggi China melampaui Korea Selatan
Laporan Institut Penelitian Industri Korea (KIET) menyatakan daya saing industri China kini melampaui Korea Selatan di sebagian besar sektor teknologi tinggi. Kondisi ini disebut mendorong Seoul untuk menyesuaikan posisi nasionalnya.
Jerman diproyeksikan tetap menjadi ekonomi terbesar ketiga dunia
Institut Penelitian Ekonomi Jerman (IW) di Cologne, dalam data yang dirilis 23 Februari, memproyeksikan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Jerman mencapai sekitar US$5,052 triliun pada 2025. Proyeksi tersebut membuat Jerman diperkirakan mempertahankan posisi sebagai ekonomi terbesar ketiga dunia pada 2025, meskipun pertumbuhan melambat.
Badai salju di timur laut AS mengganggu lebih dari 11.000 penerbangan
Badai salju musim dingin yang parah melanda wilayah timur laut AS dan memicu gangguan besar pada transportasi. Lebih dari 11.000 penerbangan dilaporkan terdampak, disertai kekacauan lalu lintas, pemadaman listrik yang meluas, serta deklarasi keadaan darurat dan larangan perjalanan di sejumlah negara bagian.
China mengumumkan langkah pengendalian ekspor terkait Jepang
Juru bicara Kementerian Perdagangan China pada 24 Februari menyatakan China memasukkan 20 entitas—termasuk Mitsubishi Shipbuilding Co., Ltd.—ke dalam daftar manajemen karena keterlibatan mereka dalam kegiatan yang disebut “meningkatkan kemampuan militer Jepang.”
WSJ: Apple memindahkan sebagian produksi Mac Mini dari Asia ke AS
The Wall Street Journal melaporkan pada 23 Februari bahwa Apple akan memindahkan sebagian produksi komputer desktop Mac Mini dari Asia ke AS. Proses produksi baru ini disebut diharapkan dimulai pada akhir tahun ini di pabrik Foxconn di sebelah utara Houston.
AS dan Jepang tegaskan komitmen perjanjian perdagangan di tengah fluktuasi tarif
Pada 24 Februari, pemerintah Jepang mengumumkan bahwa Jepang dan AS sepakat untuk terus melaksanakan perjanjian perdagangan bilateral secara penuh dan tepat waktu. Pernyataan ini disampaikan setelah Mahkamah Agung AS menolak sebagian besar tarif global yang sebelumnya diberlakukan Presiden Donald Trump.

