Sejumlah perkembangan ekonomi global pada 23 Februari 2026 menyorot dampak kebijakan tarif Amerika Serikat (AS), perubahan proyeksi harga minyak, pergeseran arus modal investor AS, hingga gejolak pasar kripto. Di saat yang sama, AS mengumumkan inisiatif baru terkait strategi kecerdasan buatan (AI), sementara badai salju besar memicu status darurat di berbagai wilayah.
Inggris berisiko paling terdampak dari perubahan tarif AS
Inggris disebut berpotensi menanggung dampak paling besar dari perubahan kebijakan tarif AS. Setelah sebelumnya berharap memperoleh keuntungan perdagangan, Inggris kini menghadapi risiko kerugian terbesar menyusul penolakan Mahkamah Agung AS terhadap tarif global Presiden Donald Trump. Menurut Global Trade Alert, Inggris diperkirakan mengalami kenaikan tarif paling tajam, dari 10% menjadi 15%. Kenaikan serupa juga disebut akan dialami Italia dan Singapura, meski besarnya tidak setajam Inggris.
Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak kuartal IV 2026
Goldman Sachs menaikkan perkiraan harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) untuk kuartal keempat 2026 sebesar 6 dolar AS. Proyeksi baru menempatkan Brent di 60 dolar AS per barel dan WTI di 56 dolar AS per barel. Penyesuaian tersebut dikaitkan dengan tingkat persediaan yang rendah di negara-negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).
Investor AS menarik dana dari ekuitas domestik dan melirik pasar luar negeri
Arus modal investor AS menunjukkan pergeseran ke pasar internasional. Investor Amerika menarik dana dari pasar saham domestik dengan laju tercepat setidaknya dalam 16 tahun, seiring melemahnya momentum saham-saham teknologi utama dan meningkatnya daya tarik pasar luar negeri yang berkinerja lebih baik. Data London Stock Exchange Group (LSEG) menunjukkan bahwa dalam enam bulan terakhir investor berbasis di AS menarik sekitar 75 miliar dolar AS dari produk ekuitas domestik.
AS membentuk “Korps Teknologi” untuk memperkuat strategi AI global
AS mengumumkan inisiatif baru bernama “Korps Teknologi”, yang disebut mengadopsi model Korps Perdamaian namun berfokus pada AI. Program ini ditujukan untuk memperkuat posisi dominan AS di pasar AI internasional, dengan merekrut lulusan STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) serta profesional AI berpengalaman untuk bertugas di negara-negara mitra.
Badai salju besar memicu keadaan darurat di berbagai wilayah AS
Di luar isu ekonomi, badai salju dahsyat mendorong banyak daerah di AS menyatakan keadaan darurat. Menjelang prakiraan badai besar di wilayah timur laut, Wali Kota New York City Zohran Mamdani pada 22 Februari waktu setempat memerintahkan penangguhan semua jaringan transportasi perkotaan, kecuali kendaraan tanggap darurat. Puluhan juta orang dari Washington, D.C., hingga Maine dilaporkan bersiap menghadapi badai yang diperkirakan membawa hingga 60 sentimeter salju di beberapa daerah.
Komisi Eropa mendesak AS patuhi perjanjian dagang UE-AS
Komisi Eropa pada 22 Februari menuntut AS mematuhi ketentuan perjanjian perdagangan Uni Eropa (UE) dan AS yang disepakati pada 2025. Desakan ini muncul setelah Mahkamah Agung AS menolak tarif balasan Presiden Donald Trump, yang kemudian ditanggapi dengan serangkaian tarif baru yang lebih luas.
Bitcoin turun di bawah 65.000 dolar AS
Di pasar aset digital, Bitcoin melemah dalam perdagangan Asia pada 23 Februari. Harga Bitcoin turun lebih dari 5% hingga di bawah 65.000 dolar AS, di tengah kekhawatiran investor terkait perkembangan kebijakan tarif AS yang dinilai baru dan tidak pasti. Penurunan terjadi setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana untuk meningkatkan tarif global menjadi 15%, yang mengguncang sentimen pasar.

