WASHINGTON DC — Konflik di Timur Tengah yang dipicu serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari dinilai tidak sebanding dengan dampak ekonomi yang kini dirasakan dunia. Di tengah klaim keberhasilan militer dari Washington, pasar energi global justru menghadapi tekanan yang kian berat.
AS menyatakan lebih dari 6.000 target di Iran telah dihancurkan. Dalam klaim tersebut, Washington juga menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur dan kemampuan nuklir Teheran telah dilumpuhkan.
Namun, situasi berbalik menjadi krisis energi setelah Iran menutup Selat Hormuz. Penutupan jalur strategis itu mendorong harga minyak melonjak, dengan minyak acuan Brent mencapai 100 dollar AS per barel. Negara-negara anggota Badan Energi Internasional, termasuk AS, kemudian melepaskan 400 juta barel cadangan minyak.
Menurut laporan Wall Street Journal pada Minggu (15/3/2026), lonjakan harga energi tersebut langsung menekan perekonomian global. Harga bahan bakar minyak (BBM) terus meningkat, sementara AS juga disebut berupaya membentuk koalisi internasional untuk mengamankan Selat Hormuz.
Pakar Iran sekaligus Wakil Presiden Kebijakan Luar Negeri di Brookings Institution, Suzanne Maloney, menilai terdapat kesenjangan antara hasil di medan perang dan konsekuensi ekonomi yang meluas.
“Ada ketimpangan yang mencolok antara pencapaian operasional AS dan Israel dengan dampak buruk bagi ekonomi global serta kepentingan keamanan nasional AS yang lebih luas,” kata Maloney.
Ia juga memperingatkan bahwa klaim kemenangan militer atas hancurnya fasilitas militer dan nuklir Iran tidak akan banyak berarti bagi warga AS jika harus dibayar dengan perlambatan ekonomi yang serius.
“Jika ini harus dibayar dengan resesi besar, itu tidak akan berarti banyak bagi Partai Republik di pemilu sela,” ujarnya.
Dampak konflik juga tercermin pada harga BBM di dalam negeri AS. Data AAA menunjukkan rata-rata harga bensin di AS pada Minggu (15/3/2026) mencapai 3,70 dollar AS per galon, naik 26 persen dibandingkan bulan sebelumnya.