BERITA TERKINI
Serangan AS-Israel ke Iran Dinilai Lebih Berisiko bagi Pasar Minyak Ketimbang Venezuela, Ancaman Resesi Global Menguat

Serangan AS-Israel ke Iran Dinilai Lebih Berisiko bagi Pasar Minyak Ketimbang Venezuela, Ancaman Resesi Global Menguat

Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran dinilai berisiko memicu gangguan besar pada pasokan minyak global, terutama karena posisi Iran sebagai produsen utama OPEC dan letaknya yang berbatasan dengan Selat Hormuz. Sejumlah analis memperingatkan, dalam skenario terburuk, eskalasi di kawasan itu dapat mendorong lonjakan harga energi dan memicu resesi ekonomi global.

Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di OPEC, dengan produksi sedikit di atas 3 juta barel per hari pada Januari. Namun, kekhawatiran pasar tidak hanya terkait volume produksi Iran, melainkan juga potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur penting yang menjadi pintu keluar-masuk utama pengapalan energi dari Teluk.

Catatan menunjukkan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan sekitar 20–25 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global melintasi Selat Hormuz. Karena itu, gangguan di jalur ini berpotensi mendorong kenaikan harga energi internasional lebih jauh.

Mantan penasihat energi Gedung Putih pada era Presiden George W. Bush, Bob McNally, menilai pasar minyak selama ini cenderung mengabaikan risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Ia mengatakan para pedagang meremehkan ancaman pembalasan Iran terhadap serangan AS yang dapat berdampak pada pasar.

McNally memperkirakan harga minyak mentah berjangka berpotensi naik 5 hingga 7 dollar AS per barel. Pada Jumat, harga minyak mentah Brent ditutup di level 72,48 dollar AS per barel, naik 1,73 dollar AS atau 2,45 persen. Sebagai perbandingan, harga Brent pada awal tahun berada di sekitar 60,9 dollar AS per barel. Brent merupakan patokan harga global untuk sekitar dua pertiga pasokan minyak dunia.

Iran juga disebut mengancam Presiden AS Donald Trump dengan membuat Selat Hormuz tidak aman bagi lalu lintas komersial. Menurut McNally, kondisi itu dapat mendorong harga minyak melampaui 100 dollar AS per barel. Ia menilai pasar belum memperhitungkan kemampuan Teheran yang memiliki persediaan ranjau dan rudal jarak pendek dalam jumlah besar yang dapat mengganggu lalu lintas kapal secara serius.

Penutupan Selat Hormuz dan risiko resesi global

Data perusahaan konsultan energi Kpler menunjukkan lebih dari 14 juta barel per hari mengalir melalui Selat Hormuz pada 2025, setara sekitar sepertiga dari total ekspor minyak mentah dunia melalui jalur laut. Sekitar tiga perempat dari volume tersebut dikirim ke China, India, Jepang, dan Korea Selatan. China, sebagai ekonomi terbesar kedua dunia, menerima sekitar setengah impor minyak mentahnya dari selat itu.

McNally menyatakan penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan dapat memicu resesi global. Ia menjelaskan, kapasitas minyak berlebih dunia banyak berasal dari negara-negara Teluk. Jika selat ditutup, pasokan tersebut tidak dapat melewati jalur utama itu, sehingga pasar akan kehilangan akses terhadap pasokan cadangan.

Selain minyak, sekitar 20 persen ekspor LNG dunia juga melewati Selat Hormuz. Sebagian besar ekspor LNG tersebut berasal dari Qatar dan dinilai sulit digantikan. McNally memperkirakan negara-negara Asia yang menjadi importir besar minyak dan gas akan melakukan penimbunan jika menyadari Selat Hormuz tertutup, yang kemudian memicu perang penawaran dan kenaikan harga.

Menurutnya, harga minyak akan naik hingga cukup tinggi untuk mendorong pelemahan ekonomi yang menurunkan permintaan dan menyeimbangkan pasar, karena permintaan minyak dinilai tidak cukup elastis.

Meski demikian, sebagian kecil aliran minyak disebut mungkin dapat dialihkan melalui infrastruktur pipa. Arab Saudi memiliki jalur pipa yang membentang dari pantai timur ke pantai barat di Laut Merah, sementara Uni Emirat Arab (UEA) memiliki jalur pipa yang berakhir di Teluk Oman sehingga dapat melewati Selat Hormuz.

Analis minyak Kpler, Matt Smith, menyebut lebih dari 20 juta barel minyak mentah telah dimuat untuk diekspor di kawasan Teluk dari Arab Saudi, Irak, UEA, Kuwait, dan Qatar. Ia juga mengatakan beberapa kapal tanker terlihat mengalihkan rute untuk menghindari selat tersebut.

Cadangan minyak strategis AS

Di sisi lain, AS disebut memiliki opsi untuk meredam gejolak harga melalui cadangan minyak strategis. Direktur Pelaksana Riset di ClearView Energy Partners, Kevin Book, mengatakan pemerintahan Trump dapat memanfaatkan cadangan tersebut jika harga minyak melonjak. Data Departemen Energi AS mencatat cadangan minyak strategis berada di sekitar 415 juta barel.

Laporan media pemerintah menyebut Iran telah melancarkan serangan rudal ke pangkalan-pangkalan AS di Qatar, Kuwait, UEA, dan Bahrain. Serangan ini dinilai dapat memengaruhi lalu lintas melalui Selat Hormuz.

Berbeda dengan Venezuela, dampak Iran dinilai lebih luas

Serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu disebut sebagai kali kedua pemerintahan AS menyerang negara produsen minyak utama tahun ini, setelah serangan terhadap Venezuela pada Januari. Namun, sejumlah analis menilai konsekuensi terhadap pasar global dari serangan ke Iran bisa jauh lebih parah.

Penutupan Selat Hormuz—yang lebarnya sekitar 21 mil di titik tersempit—akan menjadi tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada 1980-an, mantan Presiden Irak Saddam Hussein pernah berupaya memprovokasi Iran untuk menutup jalur tersebut selama perang Iran-Irak, tetapi Iran tetap mengizinkan kapal-kapal melintas.

Di saat yang sama, kelompok Houthi di Yaman juga sempat mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden, wilayah yang menjadi target mereka dalam serangan yang dimulai pada 2023.

Direktur Inisiatif Keamanan Energi dan Iklim di Brookings Institute, Samantha Gross, menilai Iran merupakan produsen minyak yang lebih besar dibanding Venezuela, sehingga konsekuensi gangguan pasokan dapat lebih besar. Ia juga menekankan posisi Iran di titik rawan minyak terpenting dunia membuat situasi ini berpotensi berdampak signifikan pada pasar, tidak hanya di AS.

Dampak politiknya juga dinilai dapat menyeret China, yang membeli sekitar 90 persen ekspor Iran atau sekitar 1,5 juta barel per hari. Gangguan pasokan besar dapat meningkatkan biaya energi global dan memicu harga bensin yang lebih tinggi bagi warga AS.

Sementara itu, analis pasar RBN Energy Robert Auers mengatakan apabila serangan AS dan dinamika permusuhan terhadap pemerintah Iran berujung pada perubahan rezim, ladang minyak Iran dapat menjadi peluang bagi perusahaan minyak internasional untuk meningkatkan produksi. Iran selama ini berada di bawah sanksi yang melumpuhkan, tetapi infrastrukturnya dinilai lebih kokoh secara struktural dibanding Venezuela.

Auers menyebut sektor hulu dan hilir Iran juga dinilai lebih baik pengelolaannya dibanding Venezuela. Menurutnya, ada potensi peningkatan produksi yang relatif cepat, dengan penambahan sekitar 500.000 hingga 1 juta barel per hari.