BERITA TERKINI
Sentimen Saham BUMI Menguat Usai Akuisisi Tambang di Australia, Investor Tetap Diminta Waspada Volatilitas

Sentimen Saham BUMI Menguat Usai Akuisisi Tambang di Australia, Investor Tetap Diminta Waspada Volatilitas

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menjadi sorotan di pasar modal seiring menguatnya sentimen setelah serangkaian aksi korporasi dan perubahan strategi bisnis. Pergerakan harga saham emiten batu bara ini belakangan dipengaruhi langkah diversifikasi ke komoditas logam, di tengah respons aktif investor domestik dan asing.

Pada Selasa, 11 November 2025, saham BUMI melonjak 32% dan ditutup di level Rp 198 per saham. Lonjakan tersebut terjadi di tengah tingginya minat beli, dengan nilai transaksi mencapai Rp 3,3 triliun. Analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai BUMI berada dalam tren kenaikan yang kuat dan impulsif setelah menembus resistance historis di level Rp 164.

Sentimen positif itu turut dipicu rampungnya akuisisi 100% saham Wolfram Limited, perusahaan tambang emas dan tembaga asal Australia. Kepemilikan penuh atas Wolfram Limited disebut akan dikonsolidasikan pada akhir 2025 dan diperkirakan membawa cadangan senilai US$2,26 miliar, sekaligus memberi BUMI eksposur langsung terhadap pendapatan dari logam mulia yang sudah berproduksi.

Akuisisi tersebut menjadi bagian dari strategi diversifikasi BUMI yang lebih luas untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara. Perusahaan menargetkan kontribusi pendapatan non-batu bara mencapai 50% pada 2030. Hingga September 2025, kontribusi penjualan emas terhadap pendapatan BUMI meningkat menjadi 17%, naik dari 11% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perubahan fokus ke mineral strategis seperti emas dan tembaga dinilai selaras dengan tren global menuju ekonomi hijau yang mendorong permintaan terhadap kedua komoditas itu. Strategi ini juga ditujukan untuk memperluas basis cadangan serta meningkatkan ketahanan pendapatan dalam jangka panjang.

Dari sisi kepemilikan, BUMI merupakan bagian dari Grup Bakrie. Namun, kinerja keuangan perusahaan masih menjadi perhatian, setelah laba bersih pada kuartal II 2025 turun menjadi Rp 331,3 miliar dibandingkan Rp 1,39 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di tengah kondisi tersebut, diversifikasi diposisikan sebagai upaya membangun fondasi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Respons pasar terhadap langkah BUMI terlihat dari aktivitas investor asing dan pandangan analis. Data transaksi menunjukkan BUMI termasuk saham yang banyak dibeli bersih (net foreign buy) oleh investor asing, dengan jumlah pembelian mencapai 2,62 miliar lembar. Sejumlah analis juga memberikan rekomendasi trading buy, antara lain dengan target harga Rp 230 per saham, serta potensi profit di kisaran Rp 214–Rp 220 dengan level support di Rp 186.

Meski demikian, peringatan atas potensi koreksi teknikal tetap mengemuka mengingat volatilitas tinggi yang kerap menyertai kenaikan tajam dalam waktu singkat.

Selain aksi korporasi, sentimen saham BUMI juga dipengaruhi faktor eksternal. Kinerja perusahaan masih terkait dengan fluktuasi harga batu bara global, sementara diversifikasi membuat BUMI turut terpapar pergerakan harga emas dan tembaga. Faktor lain yang dinilai berpengaruh mencakup kebijakan pemerintah terkait izin tambang, pajak, royalti, dan dukungan hilirisasi mineral strategis.

Tekanan transisi energi bersih juga menjadi tantangan bagi bisnis batu bara dalam jangka panjang. Namun, tembaga—yang menjadi komponen penting dalam energi terbarukan—dapat menjadi peluang di tengah tren tersebut. Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut berpotensi memengaruhi kinerja keuangan, mengingat sebagian besar pendapatan BUMI berbasis dolar AS sementara sebagian biaya operasional dalam rupiah.

Secara keseluruhan, sentimen terhadap saham BUMI dinilai bercampur. Di satu sisi, pasar melihat transformasi bisnis yang mulai terealisasi, didukung tingginya likuiditas perdagangan dan momentum teknikal. Di sisi lain, investor tetap perlu mempertimbangkan karakter saham komoditas yang fluktuatif, kinerja laba yang belum stabil, serta valuasi yang mencerminkan ekspektasi pertumbuhan tinggi, termasuk rasio price-to-earnings (PER) sekitar 124,72 kali. Struktur utang dan beban bunga juga menjadi aspek yang perlu dipantau.

Ke depan, arah saham BUMI dinilai bergantung pada keberhasilan eksekusi strategi diversifikasi, termasuk seberapa mulus integrasi Wolfram Limited, kemampuan menjaga momentum operasional di bisnis logam mulia sekaligus mempertahankan efisiensi pada batu bara sebagai penopang utama pendapatan, serta respons perusahaan terhadap dinamika makro seperti harga komoditas dan kebijakan pemerintah.

Dengan profil risiko tersebut, saham BUMI kerap dipandang lebih sesuai bagi investor dengan toleransi risiko tinggi yang meyakini narasi transformasi jangka panjang. Investor juga dapat mencermati perkembangan proyek Wolfram dan laporan keuangan triwulanan perusahaan untuk menilai konsistensi kinerja ke depan.