Pasar modal Indonesia kembali tertekan seiring memburuknya situasi geopolitik di Timur Tengah setelah serangan terkoordinasi AS–Israel terhadap Iran. Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai pasar saham masih akan dibayangi sentimen risk-off akibat meningkatnya ketidakpastian global.
Tekanan tersebut tercermin pada pergerakan indeks yang ditutup turun 218,65 poin atau 2,65% ke level 8.016,83 pada perdagangan Senin (2/3/2026). Rully menyebut tekanan jual berpotensi mendorong koreksi lebih lanjut dan memicu arus keluar asing dari pasar saham serta Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia, disertai pelemahan nilai tukar rupiah.
Dalam kondisi volatil seperti ini, Rully memperkirakan Bank Indonesia dapat mengintensifkan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot maupun DNDF, serta di pasar SBN untuk meredam volatilitas berlebihan pada rupiah dan pergerakan yield.
Menurut Rully, eskalasi konflik AS–Iran meningkatkan risiko lonjakan harga minyak dan memperkuat persepsi risiko global. Kondisi tersebut mendorong pergeseran alokasi dana ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas.
Ia menambahkan, bagi Indonesia terdapat sejumlah kanal risiko yang perlu diwaspadai, mulai dari imported inflation dan tekanan subsidi akibat kenaikan harga energi, potensi pelebaran defisit transaksi berjalan, hingga arus keluar portofolio yang dapat menekan nilai tukar.
Sementara itu, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai dampak terhadap IHSG cenderung negatif dalam jangka pendek. Ia menyoroti potensi tekanan jual, kemungkinan arus keluar dana asing, serta meningkatnya sentimen risk-off global yang dapat mendorong indeks melanjutkan koreksi.
Namun, Reydi menyebut pelemahan berpeluang bersifat sementara apabila konflik tetap terkendali dan tidak berkembang menjadi eskalasi yang lebih luas. Dalam skenario tersebut, peluang rebound dapat terbuka ketika sentimen mereda. Sebaliknya, jika konflik berlanjut atau membesar, volatilitas dinilai dapat meningkat lebih dalam dengan tekanan lanjutan terhadap indeks.
Di akhir perdagangan, pergerakan saham masih didominasi tren negatif. Sebanyak 671 saham melemah, 108 saham menguat, dan 41 saham lainnya bergerak stagnan.

