Selat Hormuz kerap disebut sebagai salah satu jalur laut paling strategis di dunia. Meski lebarnya hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempit, selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman dan Samudera Hindia ini menjadi lintasan utama pengiriman energi global. Ketika ketegangan geopolitik meningkat di kawasan tersebut, dampaknya cepat terasa hingga ke pasar energi internasional.
Dalam sejarahnya, Selat Hormuz telah lama menjadi simpul penting perdagangan. Dari masa perdagangan kuno Persia hingga era kolonialisme maritim Inggris, jalur ini dikenal strategis. Namun memasuki abad ke-20, perannya bergeser: komoditas utama yang melintas bukan lagi rempah atau sutra, melainkan minyak dan gas. Negara-negara eksportir besar seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Iran bergantung pada selat ini untuk mengirim pasokan energi ke pasar global, terutama Asia.
Data U.S. Energy Information Administration (EIA) mencatat sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz, setara hampir 20% konsumsi minyak dunia. Selain minyak mentah, selat ini juga menjadi jalur penting untuk perdagangan gas alam cair (LNG). Sekitar 20% perdagangan LNG global—terutama dari Qatar—disebut melewati wilayah ini.
Ketergantungan terbesar berada di Asia. Sekitar 84% ekspor minyak yang melewati Hormuz dikirim ke pasar Asia, khususnya China, India, Jepang, dan Korea Selatan. Karena itu, gangguan kecil sekalipun berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap perekonomian kawasan tersebut.
Dalam situasi tegang, pasar energi biasanya bereaksi cepat. Ancaman penutupan selat hampir selalu diikuti lonjakan harga minyak. Dalam beberapa eskalasi, harga minyak Brent disebut pernah naik lebih dari 10% hanya dalam hitungan hari. Sementara itu, jalur alternatif dinilai terbatas. Ada pipa seperti Abu Dhabi Crude Oil Pipeline dan pipa Saudi menuju Laut Merah, namun kapasitasnya belum cukup untuk menggantikan volume transit Selat Hormuz secara penuh.
Ketegangan di Selat Hormuz bukan peristiwa baru. Sejak Perang Iran-Irak pada 1980–1988, kawasan ini kerap menjadi ajang serangan terhadap kapal, yang dikenal sebagai “perang tanker”. Dalam satu dekade terakhir, sejumlah insiden kembali meningkatkan sorotan dunia, termasuk serangan terhadap kapal tanker di Teluk Oman pada 2019 yang menaikkan tensi Iran-AS, serta penyitaan kapal kontainer MSC Aries oleh Iran pada 2024. Pada periode 2025–2026, eskalasi konflik regional kembali memunculkan ancaman penutupan selat dan memicu volatilitas tajam di pasar energi global.
Setiap kali konflik meningkat, perusahaan pelayaran global cenderung menaikkan premi asuransi risiko perang. Sebagian operator juga memilih menghindari rute tersebut, yang dapat berujung pada kenaikan ongkos kirim. Dampaknya tidak berhenti pada harga minyak semata.
Kenaikan harga energi dapat mendorong inflasi global karena biaya produksi, transportasi, hingga harga pangan ikut terdorong. Di sisi lain, biaya logistik berpotensi melonjak seiring naiknya premi asuransi maritim di kawasan Teluk saat situasi memanas. Sejumlah lembaga internasional, termasuk IMF, berulang kali memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
Di luar indikator ekonomi makro, ada dampak sosial yang kerap luput dari perhatian. Ketika harga energi naik, biaya hidup meningkat, subsidi energi di negara berkembang dapat tertekan, dan stabilitas politik dalam negeri negara-negara importir berpotensi terguncang.
Situasi ini juga memuat paradoks bagi Iran. Meski kerap dikaitkan dengan ancaman penutupan selat, Iran sendiri disebut bergantung pada jalur yang sama untuk ekspor minyaknya. Sekitar 90–95% ekspor minyak Iran juga melewati perairan tersebut, sehingga penutupan total dinilai akan memukul ekonomi domestik Iran.
Selat Hormuz juga menjadi kawasan dengan kehadiran militer internasional yang kuat. Angkatan Laut AS dan sekutunya rutin berpatroli untuk menjaga kebebasan navigasi, menjadikan selat ini panggung unjuk kekuatan di tengah persaingan geopolitik. Sementara itu, meski transisi energi menuju sumber yang lebih bersih terus berjalan, ketergantungan dunia pada minyak dan gas Timur Tengah disebut masih tinggi, sehingga peran Selat Hormuz diperkirakan tetap relevan dalam waktu lama.
Pada akhirnya, Selat Hormuz tidak sekadar jalur pelayaran sempit. Ia menjadi simbol ketergantungan global terhadap energi fosil sekaligus titik rawan geopolitik yang dapat mengguncang pasar hanya melalui eskalasi konflik atau pernyataan politik. Selama dunia belum sepenuhnya beralih dari minyak dan gas, selat ini akan tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam peta ekonomi dan geopolitik global.

