Selat Hormuz kerap disebut sebagai salah satu titik paling krusial dalam ekonomi global karena menjadi jalur utama keluar-masuk Teluk Persia menuju samudera terbuka. Meski lebarnya relatif sempit, isu penutupan atau gangguan di perairan ini berulang kali memicu gejolak pasar komoditas internasional, terutama karena perannya yang dianggap tidak tergantikan dalam rantai pasok energi dunia.
Secara geografis, Selat Hormuz berbentuk menyerupai huruf “V”, menghubungkan Teluk Persia di sebelah barat dengan Teluk Oman dan Laut Arab di sebelah tenggara. Pada titik tersempit, jaraknya sekitar 33 kilometer. Namun, jalur pelayaran aman bagi kapal tanker berukuran besar disebut jauh lebih sempit daripada lebar keseluruhan selat.
Wilayah utara selat berada di bawah kedaulatan Iran, sementara sisi selatan berbatasan dengan Oman melalui eksklave Musandam serta Uni Emirat Arab (UEA). Karena posisinya yang strategis, perairan ini diatur secara internasional untuk menjamin hak lintas transit kapal-kapal dari berbagai negara. Meski demikian, ketegangan politik kerap membuat status hukum dan praktik di lapangan menjadi perdebatan.
Peran Selat Hormuz dalam perdagangan energi global sangat besar. Jalur ini menjadi rute utama ekspor minyak mentah dari sejumlah produsen besar, termasuk Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Iran. Berdasarkan data Energy Information Administration (EIA), rata-rata sekitar 20 hingga 21 juta barel minyak melintasi selat ini setiap hari, setara sekitar 20% hingga 30% dari total konsumsi minyak bumi cair dunia.
Selain minyak, Selat Hormuz juga merupakan jalur penting bagi Qatar—yang disebut sebagai eksportir LNG terbesar di dunia—untuk mengirim pasokan gas ke pasar Asia dan Eropa. Dengan asumsi harga minyak moderat, nilai komoditas yang melintas di jalur ini mencapai miliaran dolar AS per hari. Karena itu, gangguan sekecil apa pun dapat mendorong lonjakan harga minyak mentah global dan berpotensi memicu inflasi di banyak negara.
Secara historis, kawasan Selat Hormuz telah lama menjadi arena perebutan pengaruh. Sejak abad ke-16, Portugis membangun benteng di Pulau Hormuz setelah menyadari pentingnya wilayah tersebut. Pada periode berikutnya, Inggris melalui East India Company mendominasi kawasan untuk mengamankan jalur perdagangan menuju India.
Di era modern, selat ini menjadi panggung konflik selama Perang Tanker (1980–1988), bagian dari perang Iran-Irak, ketika kedua pihak saling menyerang kapal tanker lawan untuk melemahkan ekonomi masing-masing. Sejak itu, ancaman penutupan selat kerap dipandang sebagai salah satu instrumen geopolitik Iran dalam menghadapi tekanan atau sanksi internasional, khususnya dari Amerika Serikat dan sekutunya.
Ancaman penutupan Selat Hormuz umumnya dikaitkan dengan pertimbangan geopolitik dan keamanan nasional. Dalam sejumlah situasi, Iran disebut mengancam akan memblokir jalur ini apabila kepentingan ekspor minyaknya terganggu akibat sanksi internasional atau jika terjadi serangan militer terhadap wilayahnya.
Secara teknis, penutupan dapat dilakukan melalui pemasangan ranjau laut, penggunaan rudal pesisir, atau patroli angkatan laut yang agresif. Namun, penutupan total dalam waktu lama dinilai sulit dipertahankan karena tekanan militer global, terutama dari Angkatan Laut AS (Armada ke-5) yang berbasis di Bahrain dan berfokus menjaga jalur pelayaran tetap terbuka.
Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, dampaknya diperkirakan sangat berat bagi perekonomian dunia. Tanpa pasokan dari Teluk Persia, kelangkaan energi dapat terjadi dalam skala besar. Sejumlah analis memperkirakan harga minyak bisa melonjak melampaui 150 hingga 200 dolar AS per barel dalam waktu singkat.
Dampak lanjutan diproyeksikan merembet ke sektor industri dan konsumsi. Manufaktur di Asia—seperti China, Jepang, dan Korea Selatan—yang sangat bergantung pada minyak dari kawasan Teluk berpotensi mengalami perlambatan produksi. Sementara itu, biaya transportasi dapat meningkat tajam, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga pangan dan barang konsumsi di berbagai negara.
Meski terdapat jalur pipa alternatif melalui Arab Saudi atau UEA yang dapat menyalurkan minyak ke Laut Merah atau Teluk Oman tanpa melewati Selat Hormuz, kapasitas jalur tersebut disebut tidak cukup untuk menggantikan seluruh volume minyak yang biasanya melintas di selat. Karena itu, Selat Hormuz kerap digambarkan sebagai titik tunggal kegagalan (single point of failure) dalam sistem energi global, menjadikan stabilitas kawasan ini sebagai kepentingan bersama banyak negara.

