BERITA TERKINI
Saham Konglomerat Banyak Melemah Selama Ramadan, Pasar Menanti Arah Pergerakan Saat Bursa Dibuka

Saham Konglomerat Banyak Melemah Selama Ramadan, Pasar Menanti Arah Pergerakan Saat Bursa Dibuka

Jakarta—Pergerakan saham-saham konglomerat di Bursa Efek Indonesia selama periode Ramadan 19 Februari hingga 17 Maret 2026 cenderung kurang menggembirakan. Dari 43 saham konglomerat yang dihimpun, hanya 12 saham yang mencatatkan kenaikan harga, sementara sisanya bergerak melemah. Pergerakan berikutnya kembali dinantikan saat bursa dibuka kembali pada Rabu (25/3/2026).

Kinerja terbaik selama periode tersebut datang dari saham-saham yang berada dalam lingkaran bisnis Garibaldi Thohir (Boy Thohir). Sejumlah saham terkait grup ini tampil sebagai penguat utama, termasuk PT Samator Indo Gas (AGII) yang melonjak lebih dari 57% dan EMAS yang naik sekitar 30%. Sejumlah saham lain seperti PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), hingga PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga membukukan kinerja positif.

Penguatan saham-saham tersebut dikaitkan dengan eksposur bisnis yang kuat pada komoditas strategis, mulai dari emas, gas industri, tembaga, hingga energi. Sektor-sektor ini disebut tengah mendapat sentimen positif di pasar global, seiring permintaan komoditas terkait energi dan bahan baku industri yang masih cukup kuat di tengah perang yang bergejolak di Timur Tengah.

Di sisi lain, sejumlah saham dari kelompok konglomerat lain justru mengalami tekanan dalam. Salah satu yang paling terpukul datang dari grup milik Prajogo Pangestu. Beberapa saham dalam kelompok Barito Group mencatat koreksi tajam, terutama PTRO yang menjadi saham dengan kinerja terburuk dalam daftar. Sepanjang Ramadan, saham PTRO tercatat turun lebih dari 42%. Selain PTRO, saham lain dalam ekosistem yang sama seperti BREN, TPIA, hingga CUAN juga mengalami tekanan harga yang cukup besar.

Koreksi ini menunjukkan bahwa meski sebagian sektor komoditas diuntungkan oleh tren global, tidak semua saham terkait sumber daya alam mampu mempertahankan momentum di pasar.

Memasuki pembukaan bursa setelah libur panjang Lebaran, kinerja saham konglomerat diperkirakan masih menghadapi tekanan. Salah satu alasannya, terdapat tekanan eksternal yang dinilai belum sepenuhnya terserap pasar saham Indonesia selama periode libur, sementara ketidakpastian global meningkat seiring manuver dan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memicu kekhawatiran.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga disebut belum tersentuh dampak keputusan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang kembali mempertahankan suku bunga di level 3,50–3,75%. The Fed juga diperkirakan hanya akan memangkas suku bunga satu kali tahun ini, lebih pesimis dibandingkan proyeksi sebelumnya yang memperkirakan dua kali pemangkasan, meskipun harga minyak melonjak akibat perang dengan Iran. Keputusan suku bunga itu diumumkan pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (19/3/2026) usai pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari.

Secara keseluruhan, data selama Ramadan menunjukkan mayoritas saham konglomerat lebih banyak berada dalam tekanan dibandingkan mencatat kenaikan. Namun, saham-saham dengan eksposur kuat pada komoditas strategis tampil sebagai pengecualian dan menjadi penopang penguatan di tengah pelemahan yang lebih luas.