BERITA TERKINI
Riset: Hanya 30% Aplikasi Game Penghasil Uang Terbukti Membayar, Tren Gig Economy Digital Meningkat di 2026

Riset: Hanya 30% Aplikasi Game Penghasil Uang Terbukti Membayar, Tren Gig Economy Digital Meningkat di 2026

JAKARTA – Tren gig economy atau pekerjaan sampingan berbasis digital terus meningkat pada awal 2026. Salah satu indikatornya terlihat dari lonjakan pencarian aplikasi hiburan yang menawarkan insentif finansial bagi pengguna.

Di sisi lain, meningkatnya minat terhadap peluang pendapatan instan juga diikuti naiknya kasus penipuan digital. Data literasi digital terbaru mencatat ribuan pengguna internet di Indonesia dilaporkan kehilangan waktu dan kuota data setelah mengunduh aplikasi yang menjanjikan hadiah uang tunai, namun tidak terbukti.

Merespons fenomena tersebut, Bungkuselatan.id, sebuah platform media digital yang berfokus pada edukasi finansial dan teknologi, merilis laporan investigasi independen terkait validitas sistem pembayaran sejumlah aplikasi populer yang tersedia di Google Play Store.

Laporan itu menyimpulkan bahwa dari ratusan aplikasi yang mengklaim dapat menghasilkan uang, hanya sekitar 30% yang memiliki mekanisme pembayaran transparan dan terbukti mentransfer dana ke rekening pengguna.

Uji coba langsung selama tiga bulan

Dalam riset yang dilakukan selama tiga bulan terakhir, tim redaksi melakukan uji coba terhadap 50 aplikasi populer menggunakan metode User Experience Testing. Penilaian berfokus pada tiga indikator utama, yakni kecepatan penarikan dana (withdraw), transparansi sistem poin, serta ketiadaan skema deposit uang yang mengarah pada pola Ponzi.

Dari pengujian tersebut, tim menyusun daftar terkurasi game penghasil saldo yang dinyatakan lolos verifikasi keamanan dan pembayaran.

“Banyak masyarakat yang belum bisa membedakan antara aplikasi reward berbasis iklan yang sah dengan aplikasi skema piramida. Melalui riset ini, kami ingin memberikan standar baru bahwa aplikasi penghasil uang yang legal tidak akan pernah meminta penggunanya menyetor uang sepeser pun di awal,” ujar perwakilan tim riset digital Bungkuselatan.id dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/1/2026).

Game kasual dan kompetitif mendominasi

Laporan tersebut juga memetakan pergeseran tren aplikasi yang diminati pencari penghasilan digital. Jika pada tahun-tahun sebelumnya kategori yang dominan adalah aplikasi news aggregator dengan skema “baca berita dapat poin”, pada 2026 tren bergeser ke dua kategori utama.

Pertama, game sosial kasual seperti Hago dan Island King yang mengandalkan interaksi antar-pengguna serta sistem manajemen aset virtual untuk memberikan hadiah. Kedua, game berbasis keahlian (skill-based) seperti Mobile Premier League (MPL), yang menawarkan hadiah uang tunai berdasarkan peringkat turnamen dan kemampuan pemain, bukan semata keberuntungan.

Kedua kategori tersebut dinilai paling konsisten dalam menjaga likuiditas pembayaran kepada pengguna melalui dompet digital lokal, seperti DANA, OVO, dan GoPay.

Literasi dan verifikasi sebelum mengunduh

Sejumlah pakar keamanan siber turut menekankan pentingnya memverifikasi sumber informasi sebelum memasang aplikasi. Aplikasi yang tidak terdaftar di toko aplikasi resmi atau yang dimodifikasi (mod apk) disebut memiliki risiko tinggi, termasuk potensi penyusupan malware yang dapat mencuri data perbankan.

Dalam konteks itu, ketersediaan portal informasi yang memuat ulasan, bukti pembayaran, serta analisis risiko dinilai dapat membantu masyarakat menyaring aplikasi sebelum digunakan, sehingga potensi kerugian dapat diminimalkan.