BERITA TERKINI
Relawan Prabowo-Gibran Nilai Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2025 Jadi Sinyal Positif Kinerja Pemerintah

Relawan Prabowo-Gibran Nilai Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2025 Jadi Sinyal Positif Kinerja Pemerintah

Jakarta — Koordinator Nasional Aliansi Relawan Prabowo Gibran (ARPG) Syafrudin Budiman menilai pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II 2025 yang mencapai 5,12% sebagai tren positif kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Syafrudin merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2025 sebesar 4,87%. Ia menyebut angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan tahun 2024 yang mencapai 5,11%. BPS juga mencatat secara kuartal ke kuartal (quarter-to-quarter), ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 0,98%.

Menurut Syafrudin, kenaikan menjadi 5,12% pada kuartal II 2025 menunjukkan perbaikan. Ia menyampaikan keyakinan ekonomi dapat terus tumbuh dan menyebut proyeksi pertumbuhan bisa mencapai 6% hingga 8% jika iklim politik dan perekonomian berjalan baik. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan pers di Jakarta, Minggu (10/8/2025).

Dalam kesempatan yang sama, Syafrudin menyinggung koreksi target pertumbuhan ekonomi nasional 2025 yang disampaikan pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada Senin (1/7/2025). Target pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya dipatok 8% dikoreksi menjadi kisaran 4,75% hingga 5,25%.

Syafrudin menilai koreksi tersebut tepat karena mempertimbangkan dinamika ekonomi nasional dan global. Ia mengaitkan penyesuaian proyeksi itu dengan meningkatnya eskalasi perang dagang setelah pengumuman tarif resiprokal Amerika Serikat.

Ia juga mengutip World Economic Outlook edisi April 2025 yang menyebut Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 menjadi 4,7% dari sebelumnya 5,1% atau turun 0,4 poin persentase.

Meski demikian, Syafrudin menyatakan optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap lebih baik dibanding sejumlah negara lain yang juga mengalami revisi proyeksi. Ia mencontohkan Thailand yang direvisi 1,1 poin persentase lebih rendah, Vietnam 0,9 poin persentase lebih rendah, Filipina 0,6 poin persentase lebih rendah, serta Meksiko yang dikoreksi turun 1,7 poin persentase.

Syafrudin menilai sejumlah program pemerintah dapat memperkuat ekonomi nasional. Ia menyebut beberapa di antaranya Ketahanan Pangan dengan Swasembada Pangan, Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, pembentukan holding BPI Danantara, efisiensi anggaran APBN/APBD, serta terobosan lain yang dinilai dapat memacu pertumbuhan.

Ia menambahkan, penurunan proyeksi pertumbuhan oleh IMF pada sejumlah negara dipengaruhi ketergantungan yang besar terhadap perdagangan luar negeri. Menurutnya, kebijakan tarif ekspor-impor Amerika Serikat berpotensi memberi dampak lebih besar pada negara-negara dengan paparan perdagangan internasional yang tinggi, termasuk di kawasan ASEAN.