Ramadan dan Idulfitri menjadi periode yang tidak hanya penting secara religius dan sosial bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga memunculkan dinamika ekonomi musiman. Pada masa ini, konsumsi rumah tangga cenderung meningkat, mobilitas masyarakat melonjak, dan sejumlah sektor usaha mengalami kenaikan permintaan. Fenomena tersebut kerap disebut sebagai “Ramadan Effect”, yakni lonjakan konsumsi dan aktivitas ekonomi yang terjadi dari Ramadan hingga Idulfitri.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai momen Ramadan memberi dorongan ekonomi yang cukup signifikan, terutama pada kuartal I. Menurutnya, faktor musiman dari hari besar keagamaan nasional yang jatuh pada periode tersebut menjadi penggerak yang berulang setiap tahun bagi perekonomian Indonesia.
“Prospek pertumbuhan ekonomi di kuartal 1 ini memang momentumnya cukup baik karena seasonal factor. Kita melihat bahwa hari besar keagamaan nasional yang jatuh di kuartal 1, ada bulan Ramadan dan Idulfitri yang memang ini menjadi penggerak biasanya untuk faktor musiman bagi perekonomian Indonesia di setiap tahunnya,” kata Josua.
Lonjakan konsumsi rumah tangga
Peningkatan konsumsi menjadi ciri yang hampir selalu muncul selama Ramadan. Pola belanja rumah tangga berubah seiring meningkatnya kebutuhan makanan, pakaian, serta berbagai keperluan Lebaran. Dampaknya terlihat pada sektor perdagangan ritel yang mengalami kenaikan permintaan. Selain barang kebutuhan, konsumsi juga meningkat pada sektor jasa, seperti restoran, pusat perbelanjaan, hingga hiburan, seiring kebiasaan keluarga berkumpul dan beraktivitas bersama.
Josua menyebut, Ramadan dan Idulfitri biasanya mendorong pertumbuhan ekonomi karena konsumsi makanan meningkat dibanding periode di luar Ramadan, disertai mobilitas yang cenderung lebih tinggi akibat mudik.
Optimisme konsumen juga tercermin dalam Survei Konsumen Bank Indonesia pada Februari 2026. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada pada level optimis sebesar 125,2. Keyakinan tersebut ditopang Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat 115,9, naik dari 115,1 pada bulan sebelumnya. Sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tetap optimis di 134,4, meski lebih rendah dibanding 138,8 pada bulan sebelumnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dalam Konferensi Pers APBN Kita Maret 2026, menyatakan penjualan ritel tumbuh positif dan indeks keyakinan konsumen bertahan tinggi. “Penjualan ritel tumbuh positif dan indeks keyakinan konsumen bertahan tinggi. Ini menunjukkan konsumsi rumah tangga tetap solid dan ekspektasi masyarakat tetap optimis. Consumer Confidence Index juga di level yang tinggi di atas 100, signifikan di atas 100, konsisten di sana. Itu menunjukkan daya beli masyarakat,” ujarnya.
Dominannya peran konsumsi tidak terlepas dari struktur ekonomi Indonesia yang bergantung pada permintaan domestik, di mana konsumsi rumah tangga menjadi komponen terbesar dalam PDB. Karena itu, kenaikan konsumsi dalam skala besar dapat langsung memengaruhi aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Menurut Menteri Keuangan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I tahun ini diproyeksikan berada di kisaran 5,5–6,0 persen. Proyeksi tersebut ditopang resiliensi konsumsi rumah tangga, akselerasi investasi pada proyek strategis dan perumahan, serta output sektor manufaktur berbasis hilirisasi.
Mudik dan perputaran ekonomi ke daerah
Selain konsumsi, Ramadan Effect juga ditandai meningkatnya mobilitas masyarakat, terutama menjelang Idulfitri. Tradisi mudik memicu lonjakan perjalanan dari kota-kota besar menuju kampung halaman dan mendorong aktivitas ekonomi sektor transportasi.
Survei Kementerian Perhubungan memproyeksikan jumlah pemudik pada Ramadan dan Idulfitri 2026 mencapai sekitar 143–144 juta orang. Peningkatan mobilitas ini dinilai turut mendorong aktivitas ekonomi di daerah, karena para perantau membawa daya beli dari kota besar. Perputaran uang pun tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat ekonomi, tetapi menjangkau daerah tujuan mudik.
“Minat masyarakat untuk mudik juga akan bisa menggerakkan spending dari masyarakat di daerah. Artinya perputaran uang dari kota ke daerah ke desa itu akan semakin berjalan. Saya melihat bahwa dampak ataupun efek penggandanya ini akan cukup besar untuk bisa menggerakkan, bukan hanya di kota-kota besar, tapi juga di daerah-daerah tujuan mudik. Sehingga dampaknya akan bisa menyeluruh bagi ekonomi kita dan harapannya akan bisa mendorong pemerataan pembangunan juga,” kata Josua.
THR sebagai injeksi likuiditas
Pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) turut memperkuat Ramadan Effect. THR yang dibayarkan pemerintah dan perusahaan swasta menjelang Idulfitri umumnya langsung masuk ke perputaran ekonomi melalui konsumsi rumah tangga.
APBN mengalokasikan anggaran Rp55 triliun untuk THR dan pensiun. Target penerima THR meliputi 6,0 juta ASN, TNI, Polri, dan pensiun, sementara penerima pensiun tercatat 3,7 juta. Hingga 10 Maret 2026, penyaluran telah mencapai 45 persen dari total alokasi.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan, “THR sudah disalurkan Rp24,7 triliun atau sekitar 45 persen dari alokasi Rp55 triliun ini per 10 Maret. Kami mendorong seluruh kementerian lembaga dan seluruh pemerintah daerah agar segera menuntaskan pembayaran THR kepada seluruh pegawai dan juga ASN TNI Polri di seluruh Indonesia. Moga-moga cepat selesai dan harusnya selesai sebelum hari raya. Lalu kemudian terkait dengan pembayaran pensiun juga sudah dibayarkan dari APBN 2026. APBN membayar pensiun Rp36,6 triliun untuk 3,7 juta pensiunan.”
Josua menilai pencairan THR menambah likuiditas rumah tangga penerima, sehingga belanja cenderung meningkat. “Kalau bicara terkait dengan pembayaran pencairan THR, ini kan memang tadi akan bisa memberikan dorongan kuat ya, bukan hanya kepada swasta, tetapi juga kepada ASN. Ini tentunya akan menambah likuiditas untuk rumah tangga penerimanya yang memang belanjanya cenderung akan lebih tinggi. Kalau dari sisi perilakunya memang kondisi keuangan konsumen ini akan menunjukkan rata-rata porsi pendapatan itu untuk konsumsi masih relatif dominan,” ujarnya.
Menurutnya, THR juga dapat menjadi medium perputaran uang dari pusat ke daerah, terutama bagi penerima yang melakukan mudik. Dengan begitu, THR tidak hanya menjadi tambahan pendapatan rumah tangga, tetapi juga berperan sebagai pendorong perputaran uang dalam waktu relatif singkat selama periode Ramadan hingga Idulfitri.