Jakarta — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi ekonomi global masih diliputi ketidakpastian dengan persoalan yang kompleks. Ia menyebut, meski kinerja ekonomi global masih menunjukkan daya tahan, penggeraknya terutama berasal dari pertumbuhan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Menurut Purbaya, tekanan justru lebih terasa di negara-negara maju. Ia mencontohkan Amerika Serikat yang tengah menghadapi dinamika kebijakan tarif resiprokal serta isu terkait kepemimpinan bank sentralnya.
“Perkembangan terbaru menunjukkan MA AS membatalkan tarif resiprokal Presiden Trump. Pasar juga mencermati isu independensi the Fed pasca nominasi Kevin Warsh,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN di Jakarta, Senin (23/2/2026).
Purbaya menambahkan, ketidakpastian di negara dengan kapasitas ekonomi besar juga tercermin dari kebijakan The Federal Reserve. Pada Januari 2026, bank sentral AS tersebut menahan suku bunga acuannya di level 3,5%–3,75% setelah melakukan tiga kali penurunan pada periode sebelumnya.
Selain dinamika di AS, ia menyebut ekonomi global juga dibayangi tantangan perlambatan pertumbuhan di Tiongkok yang dipicu lemahnya konsumsi domestik.
Di tengah gejolak tersebut, Purbaya menegaskan perekonomian Indonesia dinilai tetap berdaya tahan. Ia menyampaikan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11% dan berada di peringkat ketiga pertumbuhan tercepat dibanding negara-negara dengan kapasitas ekonomi setara.
“Di tengah latar belakang tersebut ekonomi dunia menunjukkan resiliensi yang dimotori negara berkembang. Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan tertinggi dan defisit terendah di 2025,” ujarnya.

