Rapat koordinasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Solo Raya di Solo, Selasa (24/2) malam, berlangsung ramai saat Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menanyakan ketersediaan ruang istirahat bagi pengelola dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam sesi tanya jawab yang diikuti kepala SPPG, pengawas keuangan, dan pengawas gizi dari Kota Surakarta serta Kabupaten Boyolali, Sragen, dan Karanganyar, terungkap masih ada puluhan mitra SPPG yang belum menyediakan ruang istirahat. Sejumlah peserta menyampaikan kondisi di lapangan, mulai dari belum adanya ruang istirahat hingga fasilitas yang tersedia dinilai tidak layak. Ada pula pengawas gizi yang menyebut harus membeli kasur sendiri.
Nanik kemudian meminta peserta yang belum memiliki ruang istirahat atau fasilitasnya tidak layak untuk berdiri. Sekitar 30 lebih kepala SPPG dari wilayah tersebut berdiri sambil mengacungkan tangan. Ia lalu memerintahkan Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG di masing-masing kabupaten dan kota untuk mencatat seluruh SPPG yang mitranya belum menyediakan ruang istirahat bagi kepala SPPG, pengawas gizi, maupun pengawas keuangan, serta segera melaporkannya.
Salah satu kepala SPPG dari Boyolali menyampaikan bahwa pihaknya sudah meminta mitra menyediakan ruang istirahat. Namun, meski SPPG tersebut telah beroperasi selama enam bulan, fasilitas itu belum juga tersedia. Ia mengatakan mitra kerap berjanji tanpa realisasi, bahkan mengaku menerima respons bernada keberatan dari salah satu pegawai mitra ketika permintaan itu disampaikan.
Nanik menegaskan agar para kepala SPPG kembali menjelaskan kepada mitra masing-masing mengenai kewajiban menyediakan ruang istirahat yang layak. Ia menyebut pengelola perlu memantau dapur MBG setiap malam. Nanik juga menyatakan SPPG dapat disuspensi apabila mitra tidak segera memenuhi kebutuhan fasilitas tersebut.
Selain ruang istirahat, Nanik turut menyoroti ketersediaan dan standar peralatan dapur di SPPG. Ia menanyakan apakah masih ada peralatan yang tidak sesuai standar, termasuk penggunaan freezer atau chiller bekas. Seorang kepala SPPG dari Karanganyar menyebut meja di SPPG-nya masih belum menggunakan meja stainless steel. Sementara kepala SPPG dari Surakarta menyampaikan mitranya hanya menyediakan freezer dan chiller bekas, dan permintaan penggantian dengan yang baru belum dipenuhi.
Nanik kembali meminta Korwil mencatat SPPG yang peralatannya tidak standar atau menggunakan barang bekas. Ia juga meminta Korwil lebih aktif berkeliling untuk memantau dapur-dapur agar sesuai SOP dan petunjuk teknis, tidak hanya mengurusi titik calon dapur.
Dalam penegasannya, Nanik meminta para kepala SPPG menyampaikan kepada mitra bahwa peralatan dapur wajib standar dan baru. Ia menyatakan akan menyuspensi SPPG yang masih menggunakan peralatan tidak standar atau bekas.

