BERITA TERKINI
Proyek Infrastruktur Energi Terintegrasi di Kilang Balikpapan Dorong Aktivitas Ekonomi dan Serap Puluhan Ribu Tenaga Kerja

Proyek Infrastruktur Energi Terintegrasi di Kilang Balikpapan Dorong Aktivitas Ekonomi dan Serap Puluhan Ribu Tenaga Kerja

PT Pertamina (Persero) menyatakan komitmennya menghadirkan manfaat bagi perekonomian nasional melalui pembangunan Infrastruktur Energi Terintegrasi di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur. Proyek terintegrasi dari hulu ke hilir ini mencakup Pipa Gas Senipah, tangki penyimpanan raksasa Lawe-lawe, Crude Destilation Unit (CDU), fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex, hingga Terminal BBM Tanjung Batu yang menjadi salah satu penopang distribusi energi bagi masyarakat di Indonesia Timur.

Selain mendukung pemenuhan kebutuhan energi, proyek tersebut turut menggerakkan ekonomi lokal, termasuk bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi pembangunan. Yanti, pemilik warung makan di sekitar Kilang Pertamina, mengaku jumlah pelanggannya meningkat selama proyek berlangsung karena melayani para pekerja konstruksi setiap hari.

“Alhamdulillah, kita bersyukur. Untuk sehari-hari perputaran ada. Mudah-mudahan pekerja Pertamina, Pertamina Hulu Mahakam, dan yang makan siang tetap bisa datang ke warung sekitar sini walau proses pembangunan telah selesai,” ujar Yanti.

Dampak serupa juga dirasakan Tuti, pemilik Warung Kube Mandiri di Mekar Sari, Kalimantan Timur. Ia mengatakan warungnya kerap dipadati pekerja proyek saat jam makan siang. “Makan siang ramai sekali, kadang tempat duduknya juga kurang. Lumayan sekali ada proyek itu dan sangat membantu. Harapannya proyek bisa terus berjalan sehingga yang makan semakin banyak,” kata Tuti.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menyampaikan bahwa keberadaan proyek di Kalimantan Timur berpotensi membuka dan memperluas lapangan kerja sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi setempat.

Pada fase konstruksi, proyek strategis nasional ini disebut telah menyerap sekitar 24 ribu tenaga kerja, dengan sebagian besar berasal dari tenaga kerja dalam negeri. Sementara pada fase operasi, kilang di Kalimantan Timur diproyeksikan melibatkan sekitar 2.000 tenaga kerja secara langsung, serta memunculkan efek berganda berupa peluang usaha dan lapangan kerja tidak langsung di berbagai sektor pendukung.

“Proyek yang dibangun dan dikembangkan Pertamina tidak hanya berfokus pada penguatan ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan multiplier effect yang nyata bagi masyarakat,” ujar Baron.

Baron menambahkan, keterlibatan pelaku usaha setempat dalam rantai pasok proyek, penyediaan jasa pendukung, hingga kebutuhan logistik dan konsumsi selama masa konstruksi dan operasi turut memberi kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur secara umum.

Dalam pelaksanaan pembangunan kilang, Pertamina juga menjaga realisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada kisaran 35 persen. Kebijakan ini, menurut Baron, merupakan bentuk keberpihakan terhadap kemampuan industri nasional di sektor manufaktur maupun jasa agar dapat tumbuh bersama proyek strategis negara, sekaligus diharapkan memperkuat ekosistem industri dalam negeri dan meningkatkan daya saing nasional.