BERITA TERKINI
Prospek IHSG Usai Tekanan Beruntun sejak Awal Tahun, Analis Soroti Risiko Geopolitik dan Reformasi Pasar

Prospek IHSG Usai Tekanan Beruntun sejak Awal Tahun, Analis Soroti Risiko Geopolitik dan Reformasi Pasar

Prospek pasar saham Indonesia dinilai masih positif meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi tekanan volatilitas sejak awal tahun. Sejumlah sentimen negatif, mulai dari keputusan lembaga global, aksi jual investor, hingga memanasnya konflik di Timur Tengah, turut membentuk pergerakan pasar dalam beberapa bulan terakhir.

Guncangan terbaru datang dari meningkatnya ketegangan Iran dan Israel yang melibatkan dukungan Amerika Serikat (AS). Serangan udara dan laut yang terjadi pada Sabtu (28/2) memicu ketidakpastian global. Reuters melaporkan Israel melancarkan serangan ke Teheran pada Minggu (1/3) dan dibalas Iran dengan rentetan rudal.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (Ipot) Imam Gunadi menilai eskalasi konflik tersebut berpotensi berdampak ke ekonomi global, terutama melalui perkembangan di Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis itu menjadi rute sekitar 20–25% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari. Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan penutupan atau pembatasan akses ke jalur tersebut sebagai respons atas serangan gabungan AS dan Israel.

Gangguan di Selat Hormuz dinilai dapat mengguncang pasar energi global karena jalur ini memfasilitasi perdagangan puluhan juta barel minyak dan gas per hari. Kondisi tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga minyak, mengganggu rantai pasok energi, serta meningkatkan biaya asuransi pengiriman.

Dari AS, sentimen lain datang dari kebijakan tarif. Imam menyebut Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor global yang sebelumnya diberlakukan pemerintahan Trump karena dianggap melampaui kewenangan hukum, sehingga administrasi AS perlu mencari dasar hukum baru untuk mempertahankan sebagian kebijakan tarif. Dalam perkembangan berikutnya, Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15% sebagai respons terhadap pembatalan tersebut.

Selain itu, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk antisubsidi untuk panel surya dari beberapa negara, termasuk Indonesia, dengan kisaran tarif 86% hingga 143,3% karena dinilai menerima subsidi yang merugikan industri domestik AS. Ketentuan ini berpotensi menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS dan menambah tekanan pada neraca perdagangan sektor terkait.

Dengan meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah dan potensi gangguan Selat Hormuz, sektor energi dan komoditas menjadi area yang paling sensitif untuk dicermati. Menurut Imam, IHSG pada pekan ini berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi pada level support 8.031 dan resistance 8.437. Pergerakan indeks disebut akan dipengaruhi risiko geopolitik global serta sentimen fiskal domestik.

Ketidakpastian global juga berpeluang mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi. Kondisi semacam ini biasanya memicu rotasi dana ke aset safe haven dan menekan arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia. Namun di sisi lain, kenaikan harga minyak dan batu bara dapat menjadi penopang sektor energi dan pertambangan di dalam negeri, terutama jika harga komoditas bertahan tinggi. Indonesia sebagai eksportir batu bara dan komoditas energi dinilai berpeluang memperoleh keuntungan dari peningkatan harga jual rata-rata dan perbaikan margin emiten.

“Dalam kondisi global yang tidak pasti, saham berbasis komoditas sering kali menjadi proxy lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global,” ujar Imam.

Tekanan IHSG sebelumnya juga dipicu pengumuman dari lembaga indeks global. Pada 28 Januari 2026, IHSG tercatat merosot hingga 8% dalam dua hari setelah MSCI Inc mengumumkan penangguhan saham-saham Indonesia dalam proses rebalancing Februari 2026. Setelah pengumuman tersebut, sejumlah lembaga keuangan global seperti Goldman Sachs, Nomura, dan Moody’s turut mengubah outlook terhadap pasar saham Indonesia.

Dampaknya terlihat pada arus dana asing. Dalam periode sebulan hingga 18 Februari 2026, dana asing keluar dari pasar saham domestik tercatat mencapai Rp 26,55 triliun.

Meski demikian, Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana tetap optimistis terhadap kinerja IHSG tahun ini. Ia menilai reformasi pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama self regulatory organization (SRO), khususnya Bursa Efek Indonesia (BEI), berpeluang meningkatkan kepercayaan investor.

Menurut Oki, reformasi tersebut dapat mendorong transparansi, memperbaiki tata kelola, serta meningkatkan likuiditas pasar yang selama ini menjadi perhatian investor institusi, baik domestik maupun asing. Likuiditas yang lebih baik dinilai penting agar saham lebih aktif diperdagangkan dan menarik bagi investor besar seperti manajer investasi, dana pensiun, BPJS, dan perusahaan asuransi.

Oki juga menekankan pentingnya menghadirkan lebih banyak IPO yang berkualitas dan berukuran besar. Ia menilai IPO dengan fundamental kuat tidak hanya memperdalam pasar, tetapi juga berpotensi mendongkrak indeks. “Kalau IPO-nya makin banyak, berkualitas, dan sizable, investor institusi domestik maupun asing akan masuk,” ujarnya.

President Director Korea Investment Sekuritas Indonesia (KISI) Kyoung Hun Nam menilai pasar masih berada dalam fase wait and see pascakeputusan MSCI. Ia memperkirakan paruh pertama tahun ini menjadi periode konsolidasi sambil menunggu kejelasan kebijakan dan perbaikan sentimen. KISI berharap ada kabar baik setelah pemerintah mencapai kesepakatan dengan MSCI sehingga sentimen pasar membaik pada paruh kedua tahun ini.

KISI memproyeksikan IHSG berpotensi berada di kisaran 9.000 hingga 10.000 pada akhir tahun seiring membaiknya sentimen dan dukungan kebijakan pemerintah. Dari sisi strategi, Kyoung Hun Nam menyarankan diversifikasi portofolio, termasuk mempertimbangkan instrumen pendapatan tetap serta aset safe haven seperti emas dan perak di tengah ketidakpastian global. Untuk sektor, ia menilai industri defensif seperti perbankan dan konsumen berpeluang tumbuh ketika pasar lebih stabil, sementara sektor pertambangan dinilai menarik seiring tren kenaikan harga komoditas.