Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak terbatas pada pekan ini seiring jadwal perdagangan Bursa Efek Indonesia yang hanya berlangsung dua hari, yakni 16–17 Maret 2026, sebelum memasuki libur panjang. Kondisi tersebut dinilai berpotensi membuat aktivitas transaksi lebih sepi karena sebagian investor memilih menahan posisi hingga periode libur berakhir.
Pergerakan IHSG juga masih dibayangi tekanan dari pekan sebelumnya. Pada periode 9–13 Maret 2026, IHSG tercatat terkoreksi 5,91% di tengah meningkatnya tekanan sentimen global dan domestik. Pada periode yang sama, investor asing membukukan jual bersih (net sell) Rp1,2 triliun di pasar reguler.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah, menjelaskan pelemahan tersebut dipengaruhi meningkatnya tensi geopolitik global serta kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan ekonomi. “Kombinasi ketidakpastian global serta kehati-hatian kebijakan fiskal tersebut mendorong investor cenderung mengambil posisi risk-off, sehingga menekan pergerakan IHSG sepanjang pekan lalu,” ujar Hari dalam keterangan tertulis, Senin (16/3/2026).
Menurutnya, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut memicu lonjakan harga komoditas energi seperti minyak dan batu bara. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan inflasi global serta kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dalam jangka waktu lebih lama.
Sentimen negatif juga datang dari kebijakan Iran yang tetap menutup Selat Hormuz sejak akhir Februari. Selat tersebut merupakan salah satu jalur distribusi minyak dunia yang penting, sehingga gangguan pada jalur ini dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi global.
Meski demikian, Hari menyebut terdapat perkembangan yang memberi sedikit harapan bagi stabilitas pasokan energi. “Perkembangan terbaru menunjukkan adanya nuansa berbeda setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap ‘terbuka, bagi kapal-kapal yang bukan berasal dari Amerika Serikat, Israel, maupun sekutunya’,” jelasnya.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati dinamika kebijakan fiskal pemerintah yang mempertimbangkan penyesuaian sejumlah pos belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) guna menjaga defisit fiskal tetap di bawah batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Jika defisit melebar, kondisi ini berpotensi meningkatkan kebutuhan pembiayaan utang pemerintah, memberi tekanan pada imbal hasil obligasi negara, serta memengaruhi persepsi risiko investor terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Selain itu, investor menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. Secara konsensus, bank sentral diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi di tengah tekanan eksternal yang tinggi.
“Kombinasi dinamika fiskal dan arah kebijakan moneter tersebut diperkirakan akan menjadi faktor utama yang membentuk sentimen dan arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan dalam jangka pendek,” kata Hari.
Dengan berbagai sentimen tersebut, IHSG diperkirakan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah selama dua hari perdagangan pekan ini. Selain tekanan eksternal yang masih kuat, faktor musiman menjelang libur panjang juga dinilai dapat membuat transaksi pasar relatif terbatas karena investor cenderung menunggu kepastian setelah libur berakhir.