Pembukaan kembali perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 25 Maret 2026 setelah libur panjang Nyepi dan Lebaran dinilai menjadi momen penting yang dapat menentukan arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Setelah mengalami tekanan menjelang libur, pasar disebut memiliki peluang bergerak naik dalam jangka menengah.
Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana mengatakan, apabila sentimen global mulai stabil, IHSG berpotensi kembali mengarah ke area 7.200 hingga 7.300 dalam jangka menengah. Menurutnya, hari pertama perdagangan setelah libur panjang kerap menjadi penentu arah pasar untuk jangka pendek, terutama ketika aktivitas beli kembali meningkat dan mendorong indeks keluar dari fase konsolidasi.
Hendra menilai koreksi yang terjadi sebelum Lebaran lebih banyak dipicu faktor teknikal, terutama kebutuhan likuiditas investor. Dengan berakhirnya periode tersebut, tekanan jual diperkirakan mulai berkurang. Meski begitu, ia mengingatkan pergerakan pada awal perdagangan usai libur tetap berpotensi volatil karena pelaku pasar masih menyesuaikan posisi portofolio.
Di sisi lain, arah IHSG masih sangat dipengaruhi faktor global. Ketidakpastian terkait kebijakan suku bunga Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Jerome Powell menjadi perhatian investor. Selain itu, perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah serta pergerakan harga energi global turut memengaruhi sentimen pasar.
Hendra menyebut peluang penguatan akan semakin terbuka apabila tekanan global mereda. Ia menambahkan, stabilnya harga minyak, kemampuan rupiah menjaga stabilitas, serta kembalinya arus dana asing ke pasar domestik menjadi faktor yang dapat mendukung pergerakan IHSG.
Sebelumnya, Hendra juga menilai IHSG memiliki peluang rebound setelah libur Lebaran. Secara historis, indeks kerap mengalami technical rebound usai tekanan menjelang libur panjang seiring kembalinya aktivitas investor ke pasar. Namun, ia menilai kondisi tahun ini berbeda karena sejumlah sentimen global dan domestik masih membayangi, sehingga investor cenderung berhati-hati dan menunggu arah yang lebih jelas.
Menurutnya, pasar saat ini masih berada dalam fase sensitif. Tekanan dari konflik geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga energi, serta ketidakpastian kebijakan suku bunga AS dinilai menjadi faktor eksternal yang membebani pasar. Kondisi tersebut juga membuat investor asing lebih berhati-hati menempatkan dana di emerging market, termasuk Indonesia, sembari menunggu kepastian arah kebijakan moneter global.
Meski peluang rebound dinilai tetap relevan, Hendra memperkirakan penguatan kali ini tidak akan berlangsung agresif karena investor masih berada dalam mode “wait and see”. Dalam kondisi volatil, ia menyarankan investor tetap disiplin menerapkan manajemen risiko, menghindari pembelian agresif, serta melakukan akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat ketika harga berada di area support yang menarik. Ia juga menekankan pentingnya menjaga porsi kas dan menghindari panic selling, mengingat koreksi menjelang libur panjang kerap bersifat teknikal akibat kebutuhan likuiditas.