BERITA TERKINI
Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak dan Kekhawatiran Dampak Ekonomi Global

Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak dan Kekhawatiran Dampak Ekonomi Global

Penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi dunia, seiring proyeksi lonjakan tajam harga minyak mentah dan meningkatnya ketidakpastian di pasar global. Jika proyeksi tersebut terjadi, harga minyak mentah Amerika Serikat diperkirakan dapat melampaui 73 dolar AS per barel atau sekitar Rp1,14 juta (kurs Rp15.700 per dolar AS), naik dari 67 dolar AS atau sekitar Rp1,05 juta per barel pada penutupan Jumat lalu.

Kenaikan itu berpotensi menjadi level tertinggi sejak Juni 2025, ketika Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Pada saat yang sama, kelompok produsen minyak OPEC+ telah sepakat meningkatkan produksi lebih besar dari perkiraan pasar setelah menilai dampak konflik terhadap pasokan energi global.

Namun, situasi di lapangan menunjukkan eskalasi ketegangan. Garda Revolusi Iran dilaporkan memberi tahu kapal-kapal pada Sabtu bahwa pelayaran melalui Selat Hormuz dilarang. Kebijakan tersebut secara efektif menutup jalur strategis itu dan menyebabkan sejumlah pengiriman minyak terhenti.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Sekitar 500 miliar dolar AS atau setara Rp7.850 triliun perdagangan energi global melintas setiap tahun melalui perairan ini. Selain minyak mentah, jalur tersebut juga dilalui kapal-kapal yang mengangkut gas alam cair, bahan kimia, hingga pupuk.

Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan di wilayah ini dinilai berpotensi memicu lonjakan harga energi dan menimbulkan dampak luas, termasuk pada sektor pertanian serta harga pangan global.

Menurut laporan Reuters, sebuah kapal tanker diserang pada Minggu. Selain itu, sedikitnya 150 kapal yang membawa minyak mentah, gas alam cair, dan produk turunan minyak lainnya terpaksa berlabuh di perairan terbuka akibat ketidakpastian keamanan.

Teheran sebelumnya telah lama memperingatkan akan menggunakan posisi strategisnya untuk menutup Selat Hormuz sebagai bentuk pembalasan atas agresi militer. Namun, sejumlah analis memperingatkan bahwa langkah tersebut juga berisiko merugikan Iran sendiri. Tamsin Hunt, analis senior di S-RM, menilai penutupan penuh selat itu akan “menghancurkan perekonomian Iran sendiri”.

Di pasar, sejumlah lembaga keuangan telah mengeluarkan perkiraan skenario kenaikan harga. Analis Barclays memperkirakan harga minyak bisa mencapai 80 dolar AS per barel atau sekitar Rp1,25 juta jika terjadi “gangguan pasokan yang signifikan”. Sementara analis Royal Bank of Canada menyebut risiko lonjakan harga di atas 100 dolar AS atau sekitar Rp1,57 juta per barel sebagai ancaman nyata. Dalam laporan mereka yang dikutip dari The Guardian pada Senin (2/3/2026), disebutkan bahwa para pemimpin regional telah memperingatkan Washington tentang risiko penularan dari konfrontasi lain dengan Iran dan mengindikasikan bahwa harga minyak di atas 100 dolar AS merupakan bahaya yang nyata dan mendesak.

Lonjakan harga minyak mentah diperkirakan akan berdampak langsung pada harga bahan bakar di berbagai negara. Di Inggris, harga rata-rata bensin saat ini tercatat 132,9 pence per liter dan solar 142,4 pence per liter. Gejolak di Timur Tengah dinilai berpotensi mendorong harga lebih tinggi. Juru bicara AA, Luke Bosdet, menyatakan harga bahan bakar di SPBU telah meningkat selama sepekan terakhir dan eskalasi konflik di Timur Tengah mengancam biaya bahan bakar yang lebih tinggi lagi bagi pengemudi di Inggris.

Ketidakpastian geopolitik juga mendorong investor global mencari aset aman (safe haven). Harga emas yang telah menguat selama empat pekan terakhir dilaporkan melonjak 2,25% menjadi hampir 5.400 dolar AS per ons atau sekitar Rp84,7 juta. Perak juga naik 3,2%. Di sisi lain, indeks FTSE 100 London yang sebelumnya mencetak rekor tertinggi diperkirakan terkoreksi sekitar 0,5% pada perdagangan Senin pagi.

Penutupan Selat Hormuz diperkirakan mengganggu pengiriman dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, serta Iran sendiri. Jika situasi berlanjut, dunia berpotensi menghadapi kekurangan pasokan energi dan lonjakan harga yang signifikan, dengan dampak yang dapat merembet dari harga bahan bakar hingga stabilitas pasar global.