BERITA TERKINI
Penutupan Selat Hormuz dan Dampaknya bagi Ekonomi Global: Jalur Kunci Minyak Dunia Terancam

Penutupan Selat Hormuz dan Dampaknya bagi Ekonomi Global: Jalur Kunci Minyak Dunia Terancam

Penutupan Selat Hormuz disebut terjadi di tengah perang Irak melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Penutupan jalur pelayaran strategis itu dikaitkan dengan respons atas serangan AS-Israel yang diberitakan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur perdagangan paling krusial, terutama bagi energi. Setiap hari, sekitar 21% pasokan minyak dunia diangkut melalui selat ini. Karena itu, penutupan Selat Hormuz diperkirakan berpotensi memicu guncangan pada perekonomian global.

Salah satu dampak yang disorot adalah potensi kenaikan harga minyak. JPMorgan memperkirakan harga minyak dapat naik hingga menyentuh USD130 per barel apabila penutupan berlangsung dan mengganggu arus pasokan.

Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak bagi sejumlah negara produsen, termasuk Arab Saudi, Iran, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait. Ketergantungan pasokan global terhadap jalur sempit ini membuat gangguan di Selat Hormuz dinilai berisiko besar terhadap stabilitas perdagangan energi.

Wilayah yang dinilai paling terdampak adalah Asia, terutama negara-negara yang masih bergantung pada pasokan minyak Timur Tengah seperti China, Jepang, India, Korea Selatan, termasuk Indonesia. Selain minyak mentah, Selat Hormuz juga digunakan untuk pengiriman gas alam cair (LNG), petrokimia, serta berbagai barang penting lainnya.

Di tengah risiko gangguan berkepanjangan, opsi jalur alternatif disebut tersedia, meski kapasitasnya terbatas. Salah satu pilihan adalah pipa Arab Saudi yang dapat menyalurkan minyak menuju Laut Merah sebelum dikirim ke negara tujuan. Namun, kapasitas pipa ini hanya sekitar 5 juta barel per hari.

Alternatif lain adalah pipa UEA yang mengarah ke pelabuhan Fujairah di luar Selat Hormuz, dengan kapasitas sekitar 1,5 juta barel per hari. Meski dapat membantu sebagian distribusi, gabungan jalur pipa alternatif tersebut dinilai tidak mampu menggantikan volume sekitar 21 juta barel per hari yang biasanya diangkut kapal tanker melalui Selat Hormuz.

Dengan keterbatasan jalur pengganti, penutupan Selat Hormuz menempatkan rantai pasok energi global dalam posisi rentan dan berpotensi memengaruhi harga serta ketersediaan energi di berbagai negara.